Mengejutkan! Ini Alasan Gen Z Lebih Rentan Terkena Depresi!

Toar Rotulung • Dipublikasikan Kamis, 29 Agustus 2024 | 22:20 WIB
Ilustrasi depresi
Ilustrasi depresi

jagosatu.com - Remaja berada dalam fase peralihan dari anak-anak ke dewasa, di mana mereka mengalami banyak perubahan fisik dan psikologis yang membuat emosi mereka tidak stabil. Kondisi ini sering kali berhubungan dengan gangguan kesehatan mental.

Menurut Data Survey Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun menunjukkan bahwa kelompok usia 15-24 tahun memiliki tingkat depresi sebesar 2%. Meskipun banyak yang menyadari bahwa mereka mengalami gangguan mental, hanya sedikit yang mencari bantuan profesional. Hanya sekitar 10,4% dari Generasi Z yang mendapatkan perawatan untuk depresi mereka, jumlah ini lebih rendah dibandingkan kelompok usia lainnya.

Faktor utama yang menyebabkan rendahnya angka pencarian bantuan profesional adalah stigma atau pandangan tabu dari orangtua terhadap masalah kesehatan mental. Banyak orangtua yang masih menganggap bahwa gangguan mental adalah sesuatu yang tidak biasa atau bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis. Akibatnya, anak-anak yang mengalami gangguan mental sering merasa takut untuk berbicara kepada orangtua mereka.

Beberapa remaja yang menyadari kondisi mereka memilih untuk mencari bantuan sendiri, seperti datang ke psikolog secara diam-diam atau menggunakan uang sendiri untuk pengobatan, meskipun biaya terapi cukup mahal. Ada juga yang mencoba menyadarkan orangtua mereka dengan membuat presentasi tentang kondisi mereka atau menelusuri akar masalahnya.

Setelah orangtua menyadari bahwa anak mereka mengalami gangguan kesehatan mental, dukungan pun mulai diberikan. Misalnya, ada orangtua yang setelah menyadari kondisi anaknya, mengantar mereka secara rutin ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan yang dibutuhkan. Ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan dari keluarga dan lingkungan dalam membantu proses pemulihan seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental.

Kesimpulannya, meskipun banyak remaja yang mengalami gangguan mental, masih ada banyak hambatan untuk mencari bantuan profesional, terutama karena stigma dan kurangnya pemahaman dari orangtua. Dukungan keluarga dan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan mental sangat diperlukan untuk membantu remaja mengatasi masalah ini.

(putrikalantow)

Editor : Toar Rotulung
Sumber : Kompas.com, edukasi.rakyat.news
Kesehatan mental remaja Gangguan mental remaja Depresi Gen Z Bantuan psikologis Stigma kesehatan mental