jagosatu.com - Tren pink tote moment belakangan ini viral di TikTok dan ramai diperbincangkan oleh warganet, termasuk di Indonesia.
Namun, di balik namanya yang terdengar ceria, tren ini justru menyimpan kisah-kisah menyedihkan tentang pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan akibat pola asuh orangtua.
Apa Itu Pink Tote Moment?
Pink tote moment adalah istilah yang digunakan warganet TikTok untuk berbagi cerita masa kecil yang dianggap menyakitkan atau menyedihkan.
Cerita ini biasanya berhubungan dengan kemarahan, pengabaian, atau perlakuan orangtua yang meninggalkan luka emosional bagi anak-anak mereka.
Tren ini banyak muncul dalam bentuk caption video yang dibagikan dengan latar musik emosional, seperti lagu “What Was I Made For?” dari Billie Eilish.
Asal Mula Pink Tote Moment
Dilansir dari Forbes, tren ini berawal dari unggahan seorang remaja TikTok yang menceritakan pengalamannya setelah dimarahi ibunya karena hal kecil.
Video tersebut direkam dalam kamar gelap, menambah suasana sedih dari cerita yang dibagikan.
Dalam video itu, sang anak mengungkapkan bagaimana tindakan kecil dari orangtua seperti membentak atau mengabaikan bisa meninggalkan bekas yang dalam di hati anak. Dari sinilah istilah “pink tote moment” muncul.
Contoh Cerita Pink Tote Moment
Banyak warganet yang mulai membagikan pengalaman serupa mereka di TikTok. Beberapa kisah terdengar sederhana tetapi menyakitkan, sementara yang lain memiliki cerita lebih gelap.
Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pengguna TikTok:
“Pink tote moment saya adalah ketika ibu saya berkata ‘tunggu saja sampai kita pulang’ karena saya bermasalah di sekolah.
Saya sangat gugup, sampai terjatuh di jalan pulang. Saat itu saya berpikir ibu akan memaafkan saya, tetapi ternyata ibu lain yang membantu saya, sementara ibu saya hanya melihat dari jauh.”
Ada pula cerita yang lebih serius, seperti pengalaman menjadi sasaran kemarahan orangtua, ditinggalkan sendirian, bahkan mengalami kekerasan fisik.
Pelajaran untuk Orangtua
Meski terdengar menyedihkan, tren pink tote moment sebenarnya bisa menjadi pengingat penting bagi para orangtua.
Psikiater anak dari Universitas California San Diego, Dr. Willough Jenkins, menjelaskan bahwa banyak orangtua mungkin tidak menyadari kalau tindakan mereka, meskipun kecil, bisa meninggalkan bekas trauma pada anak.
“Terkadang kita melampiaskan emosi atau frustrasi kepada anak tanpa sadar,” kata Jenkins. Tren ini seperti cermin yang membantu orangtua memahami dampak dari perilaku mereka.
Dengan adanya tren ini, orangtua bisa belajar untuk:
- Lebih sabar menghadapi kesalahan anak.
- Tidak membawa emosi atau stres dari luar ke dalam rumah.
- Memastikan anak merasa didukung dan disayangi, bukan dihakimi.
Risiko di Balik Tren Pink Tote Moment
Meski bermanfaat sebagai refleksi, tren ini juga punya sisi negatif.
- Eksploitasi Cerita: Cerita yang dibagikan bisa dijadikan hiburan oleh orang lain, bukannya mendapat empati.
- Trauma Berulang: Menceritakan pengalaman menyakitkan bisa memicu kenangan buruk bagi si pencerita.
- Komentar Negatif: Tidak semua orang akan memahami cerita tersebut, dan bisa saja memberikan respons yang menyakiti perasaan.
Jenkins menyarankan agar mereka yang memiliki trauma sebaiknya berbicara dengan profesional atau orang yang dipercaya sebelum membagikan pengalaman pribadinya di media sosial.
Kesimpulan
Tren pink tote moment di TikTok adalah fenomena yang membuka mata banyak orang tentang pengalaman masa kecil yang menyakitkan akibat pola asuh orangtua.
Meski menyedihkan, tren ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi orangtua untuk lebih peka dan memahami anak-anak mereka.
Namun, membagikan cerita ini juga perlu bijak. Jangan sampai pengalaman pribadi justru membuat trauma kembali muncul atau menjadi bahan hiburan orang lain.
Sumber : tirto.id, TikTok, Forbes