Plastik Bikin Dunia Panas! Negara Maju Kompak Nolak Aturan, Kenapa?!

ALengkong • Dipublikasikan Selasa, 12 Agustus 2025 | 06:13 WIB

Jagosatu.com

Negara Maju Tolak Aturan Plastik?! Dunia Dalam Bahaya Besar! ????????
Negara Maju Tolak Aturan Plastik?! Dunia Dalam Bahaya Besar! ????????

Plastik bukan cuma bikin sampah, tapi sekarang bikin dunia ribut juga.

Di Jenewa, para perwakilan dari 184 negara kumpul untuk membahas perjanjian global soal polusi plastik.

Pertemuan ini disebut-sebut sebagai “kesempatan terakhir dunia” untuk membuat aturan internasional soal sampah plastik.

Tapi ternyata, bukan semuanya setuju soal apa yang harus diatur dan bagaimana caranya.

Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Rusia, dan Arab Saudi justru menolak pembatasan produksi plastik.

Mereka lebih mendukung solusi seperti daur ulang, penggunaan ulang, dan pengelolaan limbah.

Menurut Reuters, perbedaan pandangan ini bikin kesepakatan global soal plastik jadi semakin rumit.

Negara penghasil plastik dari minyak bumi takut kalau produksi dibatasi, ekonomi mereka bisa terganggu.

Padahal, negara-negara kecil dan berkembang justru jadi korban terbesar dari sampah plastik dunia.

Dilansir dari The Guardian, lebih dari 200 pelobi dari industri petrokimia hadir dalam perundingan ini.

Jumlah mereka bahkan lebih banyak dari delegasi beberapa negara Eropa.

Banyak aktivis khawatir kehadiran pelobi ini bisa mempengaruhi hasil perundingan agar lebih memihak industri.

Sementara itu, seniman asal Kanada, Benjamin Von Wong, bikin patung raksasa dari plastik di depan markas PBB.

Patung itu menggambarkan manusia yang ‘dibebani’ oleh plastik, sebagai simbol dampak besar dari limbah.

Menurut AP News, instalasi seni ini dibuat supaya para delegasi sadar bahwa polusi plastik bukan masalah kecil.

Profesor Richard Thompson, ahli sampah laut, juga bilang perjanjian ini harus tegas dan mengikat.

Ia khawatir kalau perundingan hanya menghasilkan aturan setengah-setengah, masalah plastik tak akan selesai.

Fakta menunjukkan mikroplastik sudah ditemukan dalam tubuh manusia, bahkan di darah dan paru-paru.

Kalau tidak ada batas produksi, maka solusi seperti daur ulang tidak akan cukup untuk menghentikan tsunami plastik.

Salah satu usulan penting dari negara-negara pro-lingkungan adalah membatasi bahan kimia berbahaya dalam plastik.

Mereka juga ingin aturan ini mengikat semua negara, bukan cuma sekadar janji manis di atas kertas.

Namun, banyak negara penghasil plastik menolak keras ide ini karena dianggap mengganggu perdagangan.

Ketidaksepakatan ini bikin banyak pihak pesimis kalau perjanjian bisa selesai tepat waktu di akhir 2024.

Meski begitu, tekanan dari publik dan kelompok lingkungan terus meningkat agar dunia bertindak cepat.

Kalau semua pihak terus memikirkan untung sendiri, mungkin kita akan mewariskan bumi yang rusak untuk generasi berikutnya.

(m)

Editor : ALengkong
Sumber : AP News, Reuters, The Guardian
KrisisLingkungan PBB2025 PlastikGlobal PerjanjianPlastik PolusiPlastik NegaraMaju