Jagosatu.com
Sebuah kolaborasi antara brand kecantikan dan fesyen lokal baru-baru ini bikin heboh netizen.
Bukan hanya soal tren makeup atau baju kekinian, tapi soal bagaimana perempuan bisa saling menguatkan.
Brand kecantikan lokal Secondate dan brand fesyen lokal Duma bikin gebrakan dengan memberdayakan ibu-ibu penganyam di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Mereka menggandeng kelompok pengrajin perempuan bernama Sekar Kawung untuk bikin pouch unik berbahan tenun khas NTT.
Tenun NTT dikenal sebagai warisan budaya yang punya nilai sejarah tinggi dan motif yang penuh makna.
Bahan tenun ini biasanya dibuat manual dengan tangan oleh perempuan-perempuan tangguh di desa-desa.
Melalui kolaborasi ini, para ibu penganyam diberi pelatihan, pendampingan, dan juga dibantu dari sisi pemasaran.
Hasil karya mereka tidak hanya jadi bagian dari produk kecantikan, tapi juga jadi simbol pemberdayaan perempuan Indonesia.
Menurut Liputan6, kolaborasi ini dirilis sebagai bagian dari kampanye Hari Kemerdekaan yang bertema "Berdaya Bersama".
Nama kampanye ini sendiri ingin menggambarkan bagaimana brand lokal bisa tumbuh bersama komunitas.
Setiap pembelian produk Secondate yang tergabung dalam kampanye ini sudah termasuk pouch tenun hasil karya ibu-ibu NTT.
Jadi, konsumen nggak cuma beli produk kecantikan, tapi juga ikut membantu ekonomi lokal.
Langkah ini disambut positif oleh banyak netizen karena dianggap sebagai bentuk aksi nyata bukan sekadar CSR biasa.
Apalagi di masa sekarang, banyak masyarakat yang lebih peduli pada brand yang punya misi sosial jelas.
Duma sendiri memang dikenal sebagai brand yang aktif mengangkat nilai budaya Indonesia dalam desainnya.
Sementara Secondate lebih fokus ke produk kecantikan yang ramah lingkungan dan inklusif.
Keduanya bersatu menciptakan produk yang nggak cuma cantik dari luar tapi juga berdampak positif dari dalam.
Para ibu penganyam merasa lebih dihargai dan semangat mereka meningkat karena karya mereka dilirik nasional.
Program ini diharapkan bisa jadi contoh bagi brand lain untuk lebih peduli pada komunitas akar rumput.
Semakin banyak kolaborasi seperti ini, makin besar dampak positifnya bagi ekonomi lokal dan pelestarian budaya.
(m)
Editor : ALengkongSumber : Media Indonesia, Liputan6