Arkeologi Bali Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Jawa Kalimantan Kesehatan Lifestyle & Hiburan Maluku Nasional Nusa Tenggara Timur Olahraga Papua Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Memahami Cara Melatih Fokus Anak Berdasarkan Tahapan Usianya

ALengkong • Jumat, 10 Juli 2026 | 16:34 WIB
Ilustrasi orang tua bersama anak (doc: Freepik)
Ilustrasi orang tua bersama anak (doc: Freepik)

Jagosatu.com -  Di era serba instan, anak-anak sangat terbiasa dengan hiburan yang serba cepat. Hanya dengan satu ketukan di layar, animasi warna-warni dan suara menarik langsung bermunculan di hadapan mereka. Namun, kebiasaan ini rupanya bisa menjadi bumerang saat anak harus duduk tenang di sekolah atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan kesabaran ekstra. Ketika anak terlalu sering mendapat kepuasan instan, aktivitas yang berjalan lambat seperti membaca buku justru membuat mereka gampang menyerah.

Pakar perkembangan dan perilaku anak, Anna Malia Beckwith, M.D., menjelaskan bahwa kemampuan fokus sangat bergantung pada tingkat kematangan otak seseorang. Area lobus frontal dan parietal yang berfungsi mengatur kendali perhatian, menurutnya, baru benar-benar matang sepenuhnya saat seseorang menginjak usia pertengahan 20-an.

Oleh karena itu, menurut Dr. Beckwith, sangat wajar apabila anak-anak memiliki rentang perhatian yang jauh lebih pendek dibandingkan orang dewasa. Ia pun mengingatkan para orang tua untuk tidak menuntut anak, terutama balita, agar memiliki tingkat konsentrasi layaknya orang dewasa, mengingat memori kerja serta kemampuan mengelola emosi mereka masih dalam tahap perkembangan.

Sementara itu, guru sekolah menengah sekaligus pembuat konten, Carina Fischer, menambahkan bahwa kesulitan anak dalam mempertahankan fokus juga akan berdampak pada aspek emosionalnya sehari-hari. "Secara emosional, ketika anak merasa kewalahan atau mendapat stimulasi berlebih, perhatian sering kali menjadi hal pertama yang hancur," ungkap Fischer. Untuk mengatasinya, ia menyarankan agar orang tua berhenti memarahi atau langsung menyelamatkan anak saat mereka mulai kesulitan. Alih-alih begitu, validasi perasaan mereka agar terbiasa menghadapi rasa tidak nyaman, karena sikap ini akan membentuk fondasi yang kuat bagi rentang perhatian mereka di masa depan.

Lalu, bagaimana cara memperbaiki daya konsentrasi anak di tengah gempuran distraksi saat ini? Psikolog klinis sekaligus pendiri Good Inside, Becky Kennedy, PhD, mengatakan bahwa akar dari rentang perhatian anak sebenarnya terletak pada tingkat toleransi mereka terhadap rasa frustrasi. "Anak-anak tidak bisa bertahan dengan sesuatu yang sulit jika mereka belum belajar bahwa rasa frustrasi itu bisa dilalui," ujarnya, melansir Good Housekeeping, Kamis (9/7/2026).

Menurut Kennedy, kemampuan anak untuk memusatkan perhatian sebenarnya dipengaruhi oleh perpaduan banyak faktor, mulai dari perkembangan biologis, lingkungan sekitar, hingga kebiasaan mereka menatap layar gawai. Dengan memahami akar permasalahan ini, orang tua diharapkan dapat menerapkan pendekatan yang lebih tepat dalam membantu anak melatih fokus sesuai tahapan usia dan kondisi masing-masing.

Editor : ALengkong
##melatih fokus anak