Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Kisah Sultan Hamengkubuwono VI dalam Merebut Kekuasaan dan Pengkhianatan Terhadap Keluarga

Toar Rotulung • 2023-11-16 10:23:41
Sultan Hamengkubuwono VI (Foto: Wikipedia)
Sultan Hamengkubuwono VI (Foto: Wikipedia)

JAGOSATU.COM - Sultan Hamengkubuwono VI, juga dikenal sebagai Gusti Raden Mas Mustojo, memimpin Kesultanan Yogyakarta dari tahun 1855 hingga 1887. Ia lahir pada 10 Agustus 1821 sebagai putra Sultan Hamengkubuwono IV dan permaisuri Gusti Kanjeng Ratu Kencono.

Naik takhta menggantikan kakaknya, Sultan Hamengkubuwono V, pada tahun 1839, Raden Mas Mustojo diberi gelar Pangeran Adipati Mangkubumi dan pangkat letnan kolonel oleh pemerintah Hindia Belanda.

Meskipun awalnya mendukung politik perlawanan pasif kakaknya terhadap Belanda, setelah menjadi raja Sultan Hamengkubuwono VI melanjutkan kebijakan tersebut.

Meskipun awalnya terjadi pemberontakan yang tidak mengakui pemerintahannya, pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh Patih Danurejo V. Sultan Hamengkubuwono V tewas pada 5 Juni 1855, dan putra kedua dari permaisuri kedua, Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedaton, lahir pada 18 Juni 1855.

Meski seharusnya putra mahkota, Gusti Raden Mas Timur Muhammad, naik takhta sebagai pengganti Sultan Hamengkubuwono V, Raden Mas Mustojo memaksakan diri menjadi raja dan membuat perjanjian dengan Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedaton.

Perjanjian tersebut menyatakan bahwa Raden Mas Mustojo hanya menjadi raja sementara, menunggu Gusti Raden Mas Timur Muhammad dewasa.

Namun, ketika Gusti Raden Mas Timur Muhammad dewasa, Sultan Hamengkubuwono VI menunda janji tersebut dan hanya mengangkatnya sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryaning Alaga.

Bahkan, saat semakin tua, Sultan Hamengkubuwono VI melanggar perjanjian tersebut dan mengangkat anaknya sebagai putra mahkota, bertentangan dengan kesepakatan sebelumnya dengan Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedaton.

Pada masa akhir pemerintahannya, Sultan Hamengkubuwono VI menangkap Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedaton dan Gusti Raden Mas Timur Muhammad, menyatakan mereka menentang perintah raja. Sultan kemudian meminta Belanda untuk mengasingkan mereka ke Manado, hingga meninggal disana. ***

Editor : Toar Rotulung
#Sultan Hamengkubuwono VI #Sultan Hamengkubuwono V #Kesultanan Yogyakarta #Raden Mas Mustojo #Gusti Raden Mas Timur Muhammad