JAKARTA - Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan 2026 jatuh pada 18 Februari. Di sisi lain, Kementerian Agama (Kemenag) menjadwalkan sidang isbat penentuan awal puasa pada 17 Februari. "Ada 96 lokasi pemantauan hilal di seluruh Indonesia," kata Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmat kemarin (9/2).
Mantan Dirjen Pendidikan Islam Kemenag itu mengimbau masyarakat sebaiknya bersabar menunggu hasil sidang isbat. "Sidang isbat mempertemukan data hisab dengan hasil rukyatul hilal," katanya.
Abu menyebutkan, berdasarkan perhitungan hisab, ijtimak (konjungsi) menjelang Ramadan tahun ini terjadi pada Selasa, 17 Februari, pukul 19.01 WIB. Posisi hilal saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia berada di bawah ufuk. Dengan ketinggian berkisar −2° 24 menit 42 detik hingga −0° 58 menit 47 detik, serta sudut elongasi 0° 56 menit 23 detik hingga 1° 53 menit 36 detik.
Baca Juga: 1.217 UMKM Tembus Pasar Ekspor, Transaksi Capai USD 134,87 Juta Sepanjang Tahun Lalu
Secara teoritis, saat 17 Februari nanti hilal belum wujud atau tidak bisa diamati. Sehingga jumlah bulan Syaban digenapkan (istimal) menjadi 30 hari. Maka, 1 Ramadan jatuh pada 19 Februari. Ini terjadi jika nanti tidak ada satupun petugas yang berhasil melihat hilal. Sebaliknya jika pada 17 Februari nanti ada petugas yang bisa melihat hilal, awal puasa jatuh pada 18 Februari.
Sementara itu, keputusan penetapan awal puasa oleh Muhammadiyah diambil karena mereka sekarang menggunakan Kalender Hijriah Global (KHG). Profesor Riset BRIN sekaligus ahli astronomi Thomas Djamaluddin mengatakan, dengan penggunaan KHG, yang jadi patokan Muhammadiyah bukan posisi hilal secara regional atau di Indonesia saja, melainkan global. Jadi meskipun di Indonesia hilal masih di bawah ufuk, jika penjuru dunia lain ada yang sudah di atas ufuk, berarti sudah ganti bulan. (wan/ttg/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy