JAKARTA — Pemerintah tancap gas memperkuat ketahanan energi nasional. Produksi migas, percepatan biodiesel, serta pengembangan energi baru terbarukan (EBT) diposisikan sebagai tiga penopang utama agar Indonesia lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada impor energi pada 2026.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno mengatakan, pemerintah menyiapkan tiga fondasi kebijakan, yakni kemandirian energi, ketahanan energi, dan swasembada energi. Salah satu fokusnya ialah meningkatkan kapasitas kilang agar lebih banyak bahan bakar minyak (BBM) diproduksi di dalam negeri.
"Pada ketahanan energi kita meningkatkan cadangan melalui penambahan kapasitas storage minyak. Pada swasembada energi, kita berupaya menurunkan impor melalui berbagai pendekatan," ujar Tri.
Selain infrastruktur, pemerintah juga mendorong kenaikan produksi migas. Pada 2025, realisasi lifting minyak mencapai 605.300 barel per hari (bph), melampaui target APBN.
Baca Juga: Polres Tuban Bekuk ASN Penganiaya Empat Pegawai SPBU, Korban Alami Memar di Wajah
Untuk menjaga momentum itu, Kementerian ESDM menyiapkan optimalisasi teknologi di lapangan eksisting hingga menghidupkan kembali sumur minyak tidak aktif. Hingga Desember 2025, terdapat 787 sumur idle dari potensi sekitar 6.300 sumur yang bisa direaktivasi.
"Selain itu, percepatan eksplorasi di Indonesia Timur juga dilakukan. Nantinya akan ada penawaran 110 blok migas potensial untuk menjamin pasokan ke depan," jelas Tri.
Tak hanya migas, penguatan energi juga ditempuh lewat bahan bakar nabati. Program mandatori biodiesel B40 disebut memberi dampak besar. Mulai dari tambah devisa hingga Rp130 triliun serta penciptaan sekitar dua juta lapangan kerja. Pemerintah kini menyiapkan peningkatan bauran menjadi B50. Uji coba B50 sudah memasuki tahap lapangan. (agf/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy