JAKARTA — Pasar saham domestik memasuki periode musiman yang kerap menjadi sorotan pelaku pasar. Perayaan Tahun Baru Imlek dan awal Ramadan pekan ini membuat perdagangan hanya berlangsung tiga hari, Rabu (18/2) hingga Jumat (20/2). Kondisi tersebut mendorong investor lebih selektif, baik untuk trading jangka pendek maupun investasi.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memprediksi, pergerakan pasar cenderung berada dalam fase konsolidasi dengan peluang penguatan terbatas di sektor tertentu. Momentum Imlek dan Ramadan biasanya memunculkan fenomena prefistive rally, terutama pada saham ritel dan konsumsi, seiring ekspektasi peningkatan daya beli dan peredaran uang.
Likuiditas Tipis
"Likuiditas yang relatif tipis akibat rangkaian libur panjang berpotensi membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak sideways dan rentan aksi ambil untung. Level support IHSG berada di kisaran 7.950, sementara resistansi di 8.500," ujarnya.
Baca Juga: Pengembangan QRIS, BI Pasang Target 17-8-45
Kinerja Impresif Pekan Lalu
Sebelumnya, kinerja pasar modal domestik terbilang impresif. Sepanjang 9-13 Februari 2026, IHSG melonjak 3,49 persen ke level 8.212,271 dari 7.935,260 pada pekan sebelumnya. Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, mayoritas indikator perdagangan ditutup positif. "Volume transaksi harian tumbuh 4,73 persen menjadi 45,24 miliar lembar saham. Kapitalisasi pasar pun meningkat 3,83 persen menjadi Rp 14.889 triliun dari Rp 14.341 triliun," tuturnya. Meskipun demikian, rata-rata nilai transaksi harian terkoreksi 6,27 persen menjadi Rp 23,2 triliun. Investor asing juga masih mencatatkan net sell Rp 2,03 triliun pada akhir pekan, dengan total jual bersih year to date 2026 mencapai Rp 16,49 triliun.
Jadi Katalis
Secara keseluruhan, IHSG kini berada di fase uji konsolidasi setelah reli signifikan. Momentum musiman bisa menjadi katalis, namun selektivitas tetap menjadi kunci di tengah likuiditas yang menyempit. paparnya(mim/dio)
Editor : Pratama Karamoy