JAKARTA – Pemerintah menargetkan konsolidasi badan usaha milik negara (BUMN) di sektor logistik rampung pada semester pertama 2026. Langkah tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem logistik nasional yang lebih efisien dan terintegrasi.
Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menjelaskan, PT Pos Indonesia akan menjadi entitas utama atau jangkar dalam proses merger tersebut. Sejumlah anak usaha BUMN di sektor logistik akan digabungkan untuk memperkuat struktur bisnis, di antaranya Semen Logistik, Pupuk Logistik, Angkasa Pura Logistik, dan KAI Logistik. "Karena kita punya banyak anak usaha di bidang logistik, maka langkah berikutnya adalah membuatnya lebih efisien, lebih kuat, dan lebih terintegrasi melalui merger," ujar Dony.
Menurut dia, proses konsolidasi saat ini masih berjalan dan ditargetkan selesai pada paruh pertama tahun ini. Tahap awal telah dilakukan melalui perubahan struktur direksi di Pos Indonesia sebagai bagian dari persiapan integrasi perusahaan.
Dony menyebutkan, konsolidasi tersebut merupakan bagian dari strategi optimalisasi BUMN secara menyeluruh setelah dilakukan evaluasi fundamental terhadap seluruh perusahaan pelat merah. "Setelah melakukan fundamental business review seluruh perusahaan, hasilnya ada empat opsi: likuidasi, divestasi, konsolidasi, dan restrukturisasi," jelasnya.
Untuk sektor logistik, opsi konsolidasi dinilai paling tepat guna memperkuat daya saing BUMN tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga di tingkat regional. Selain itu, integrasi perusahaan logistik BUMN diharapkan dapat memperlancar rantai distribusi barang dari produsen hingga konsumen.
Baca Juga: Kemensos-Kemendagri Salurkan Bantuan Rp 100 M buat Korban Bencana Aceh Timur
Sektor Karya
Selain sektor logistik, pemerintah juga mendorong transformasi pada kelompok BUMN Karya yang kini tengah menjalani proses restrukturisasi. Menurut Dony, restrukturisasi tersebut hampir rampung dan akan menjadi fondasi sebelum perusahaan konstruksi pelat merah memasuki tahap konsolidasi.
Dalam skema baru, BUMN Karya akan difokuskan pada tiga lini bisnis utama, yakni konstruksi gedung (building), infrastruktur, serta engineering procurement and construction (EPC).
Proses restrukturisasi dilakukan melalui pembenahan fundamental perusahaan, termasuk penyesuaian nilai aset serta restrukturisasi utang. "Mereka sudah hampir final dalam proses restrukturisasi. Setelah itu baru masuk fase konsolidasi," ujarnya. (agf/dio/jawa pos)
Editor : Pratama Karamoy