Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Pertanian Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Bareskrim Ringkus 330 Mafia BBM-LPG Subsidi, Negara Rugi hingga Rp 243 Miliar

Pratama Karamoy • Rabu, 22 April 2026 | 14:07 WIB
UNGKAP PERKARA: Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin (dua dari kanan) bersama Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto (dua dari kiri) dan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu (kanan) saat konferensi pers kasus penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi di Mabes Polri kemarin (21/4). (Foto: RENO ESNIR/ANTARA FOTO)
UNGKAP PERKARA: Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin (dua dari kanan) bersama Danpuspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto (dua dari kiri) dan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu (kanan) saat konferensi pers kasus penyalahgunaan BBM dan LPG subsidi di Mabes Polri kemarin (21/4). (Foto: RENO ESNIR/ANTARA FOTO)

 JAKARTA – Bareskrim Polri membongkar praktik culas penyalahgunaan elpiji dan BBM bersubsidi dalam operasi 13 hari (7 April - 20 April 2026) di 223 TKP. Total, 330 tersangka diringkus dengan nilai kerugian negara berkisar Rp 243.069.600.800. 

Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin mengatakan, tindakan pelaku bukan sekadar kejahatan biasa, melainkan bentuk sabotase terhadap kesejahteraan sosial. "Setiap liter BBM dan tabung LPG bersubsidi yang mereka selewengkan adalah hak petani, nelayan, dan pedagang kecil yang dirampas," ucapnya dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin (21/4).

Data Polri menyebutkan bahwa sepanjang periode 2025 sampai 2026, tercatat 65 SPBU terlibat dalam praktik penyalahgunaan itu. Sebanyak 46 perkara di antaranya sudah dinyatakan lengkap (P21). Sementara, 19 lainnya tengah didalami penyidik. "Kejahatan ini sangat terorganisir," ujar Nunung.

Modus Operandi

Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Pol Moh. Irhamni menjelaskan modus operandi yang dilakukan para tersangka yang semakin licin, mulai dari memodifikasi tangki kendaraan hingga memanipulasi barcode melalui plat nomor palsu. "Di sektor gas, praktik kanibal isi tabung LPG 3 Kg yang dipindahkan ke tabung nonsubsidi masih menjadi momok utama," paparnya.

Dampak kecurangan ini merugikan keuangan negara berkisar Rp 243.069.600.800. Selain itu, efek sosialnya jauh lebih menyakitkan, yakni antrean panjang sopir angkutan, kelangkaan solar untuk nelayan, hingga ibu rumah tangga yang mengeluhkan minimnya ketersediaan gas melon di pasaran. "Barang bukti yang disita wujud nyata penjarahan tersebut, yakni 461.814 liter BBM, baik Solar dan Pertalite. Lalu, 13.346 tabung LPG berbagai ukuran, 161 unit kendaraan yang digunakan sebagai sarana kejahatan," terang Irhamni.

 

Baca Juga: Ragam Dugaan Kecurangan Hari Pertama Ujian Berbasis Komputer: Peserta Dibawa ke Klinik THT untuk Lepas Alat Bantu

 

Gandeng PPATK

Polisi kini tidak hanya berfokus menindak para operator penyelewengan BBM dan LPG di lapangan. Lewat strategi baru, Bareskrim telah memerintahkan seluruh penyidik untuk menggandeng PPATK guna melacak aliran dana hasil kejahatan tersebut. "Kami tidak akan berhenti pada pelaku di lapangan. Pemodal, penampung, hingga aktor intelektual di balik layar akan kami jerat dengan pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Kami akan sita aset hasil kejahatan mereka sampai ke akar-akarnya," tambah Nunung.

Pantauan Harga

Belum seluruh agen LPG 12 Kg di Surabaya memberlakukan kenaikan harga, dari Rp 192 ribu per tabung menjadi Rp 228 ribu per tabung. Arikah Nova, penjaga toko LPG di kawasan Ketintang, Surabaya, Jawa Timur menuturkan, elpiji pink di tempatnya dijual Rp 209 ribu per tabung, naik 17 ribu dari harga awal. "Tapi, kami hanya menyediakan isi ulang, tidak tabung baru," terangnya.

Arikah mengaku belum mengetahui kabar tentang kenaikan harga LPG 12 Kg. Sehingga, dia masih menjual elpiji nonsubsidi tersebut sesuai dengan harga lama.

Di sejumlah titik di Sidoarjo, harga LPG nonsubsidi berada di kisaran Rp 238 ribu hingga Rp 240 ribu per tabung. Meski naik, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sidoarjo belum menerima laporan keluhan dari masyarakat. Sekretaris Disperindag Listyaningsih menyatakan kondisi di lapangan masih terpantau kondusif. "Belum ada aduan yang masuk ke kami, kondisi masih relatif aman," kata Listyaningsih. (idr/leh/ful/aph)

Editor : Pratama Karamoy
#LPG #Nasional #BBM