JAKARTA – Ambisi mendorong petani sawit naik kelas ke level industri terus digaungkan. Namun, di lapangan, fondasinya masih rapuh. Produktivitas rendah, peremajaan tersendat, hingga regulasi berlapis menjadi penghambat yang belum tuntas.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto menyebutkan, transformasi petani menjadi pelaku industri bukan lagi opsi, melainkan kebutuhan untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok. “Petani sawit harus dibawa ke era industrialisasi, dari hulu sampai hilir. Dengan begitu, ketergantungan berkurang dan peluang laba bisa lebih besar,” ujarnya dalam forum diskusi di Jakarta kemarin (27/4).
Baca Juga: Larangan Bahan Tambahan Kian Menekan Industri Hasil Tembakau
Namun, lanjut dia, jalan menuju ke sana tidak sederhana. Saat ini sekitar 42 persen kebun sawit nasional dikelola petani. Namun produktivitasnya masih tertinggal jauh dibanding perusahaan besar. Rata-rata produksi hanya sekitar 2,6 ton per hektare per tahun. “Salah satu penyebab utama adalah lambatnya peremajaan sawit rakyat. Banyak tanaman sudah tua, tetapi proses replanting berjalan jauh dari kebutuhan ideal,” tuturnya.
Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara (APN) Seger Budiardjo menyebutkan, dorongan industrialisasi juga menuntut perubahan mendasar di tingkat petani. Pola usaha yang masih individual dinilai tidak lagi memadai untuk masuk ke rantai industri yang lebih kompleks. (bry/dio)
Editor : Pratama Karamoy