JAKARTA - Potensi tambahan nilai perdagangan karbon di Indonesia masih sangat besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan dalam antrean (pipeline) nilai perdagangan karbon diperkirakan dapat bertambah sebesar Rp 560,9 miliar hingga Rp 1,39 triliun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, potensi tersebut berasal dari tambahan unit karbon yang diproyeksikan dapat diperdagangkan mencapai 9,5 juta ton karbon ekuivalen (CO2e). "Kalau kita lihat, total proyeksi unit karbon tambahan yang dapat diperdagangkan sebesar 9,5 juta ton CO2e atau setidaknya senilai Rp 560,9 miliar hingga Rp 1,39 triliun dengan harga unit karbon yang diperdagangkan di IDXCarbon saat ini," ujarnya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR di Jakarta kemarin (21/5) seperti dilansir Antara.
Perempuan yang akrab disapa Kiky menjelaskan, tambahan pasokan unit karbon tersebut berasal dari 49 proyek baru yang saat ini masih berada dalam antrean. Proyek-proyek tersebut diperkirakan menyumbang potensi perdagangan karbon sebesar 7,69 juta ton CO2e.
Baca Juga: Pemerintah Setujui Bandara Kertajati Jadi Pusat Perawatan Hercules Se-Asia
Selain itu, terdapat tambahan pasokan dari 10 proyek existing yang diproyeksikan mampu menambah suplai unit karbon sekitar 2,15 juta ton CO2e. "Sehingga total proyeksi unit karbon tambahan yang dapat diperdagangkan mencapai sekitar 9,5 juta ton CO2e," katanya.
OJK menilai perkembangan perdagangan karbon nasional terus menunjukkan tren positif sejak diluncurkannya Bursa Karbon Indonesia atau IDXCarbon pada 26 September 2023. Hingga 30 April 2026, IDXCarbon tercatat telah memiliki 155 pengguna jasa terdaftar dan memuat 10 proyek Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK). "Secara agregat, volume transaksi perdagangan karbon telah mencapai 1,98 juta ton CO2e dengan total nilai transaksi sebesar Rp 93,75 miliar," tuturnya. (mim/dio)
Editor : Pratama Karamoy