JAGOSATU.COM - Putri Kusuma Wardani (KW) telah mengambil bagian dalam sepuluh turnamen perorangan sepanjang tahun 2023. Sayangnya, meskipun sebagai pebulu tangkis yang juga anggota kepolisian wanita, ia belum berhasil mencapai babak semifinal dalam satu pun turnamen tersebut.
Hingga saat ini, pencapaian tertinggi yang berhasil diraih oleh Putri adalah mencapai perempat final.
Beberapa turnamen yang diikuti antara lain adalah Swiss Open (21–26 Maret), Orleans Masters (4–9 April), dan Taiwan Open (20–25 Juni). Pada turnamen terakhirnya, Putri yang merupakan atlet yang dibina oleh PB Exist harus tersingkir pada babak 32 besar Australia Open.
Asisten pelatih tunggal putra, Herli Djaenudin, mengakui bahwa performa Putri mengalami penurunan. Meskipun begitu, dia berusaha agar penurunan ini tidak menghancurkan semangat Putri. Dari serangkaian kekalahan tersebut, terdapat berbagai pelajaran yang bisa diambil.
Seperti halnya dalam banyak bidang lainnya, Herli mengamati bahwa hasil di pertandingan tidak selalu sejalan dengan persiapan yang telah dilakukan dalam latihan.
"Mengamati performanya belakangan ini, sepertinya Putri sedang tidak dalam kondisi terbaik. Ada penurunan yang terlihat," ungkap Herli. Salah satu hal yang ditekankan adalah kekurangan kepercayaan diri Putri di lapangan. "Dulu dia tampil dengan penuh keyakinan diri, tetapi sekarang ada penurunan," tambahnya.
Saat ini, Putri sedang berusaha keras untuk meraih hasil terbaiknya di Kejuaraan Dunia yang akan digelar di Kopenhagen, Denmark, pada tanggal 21–27 Agustus.
Mengenai situasi tunggal putri yang belum mampu menghasilkan pemain di level atas, seorang pengamat bulu tangkis bernama Luluk Hadiyanto berpendapat bahwa pengembangan olahraga di Indonesia harus melibatkan kerjasama dari berbagai pihak.
Mulai dari atlet, pelatih, orang tua, hingga semua unsur yang terlibat dalam fasilitas dan infrastruktur olahraga.
Luluk mendorong agar pelatih yang mampu membawa atlet ke pelatnas (pelatihan nasional) juga sebaiknya diberdayakan di dalam pelatnas. "Pelatih sebaiknya ikut serta lebih dulu, ini adalah untuk mengalami proses pematangan.
Setidaknya, selama satu hingga dua tahun di tingkat junior. Barulah di level utama, pemain unggulan atau pelatih di pelatnas yang mengambil alih," sarannya.
Sejauh ini, pelatih yang mengasuh atlet di klub sering kali terabaikan. Padahal, jika pelatih telah membimbing atlet sejak awal, maka mereka sudah terbiasa dengan program latihan yang diberikan. Ini akan membangun hubungan yang baik antara atlet dan pelatih.
Tidak hanya itu, pelatih yang telah mengawasi sejak dini akan lebih memahami karakteristik para siswa. "Karena pada usia anak-anak, karakter masih dalam tahap labil. Kemampuan yang baik di klub belum tentu akan berlanjut di pelatnas," papar Luluk.
Terkadang, perbedaan persepsi antara pelatih dan atlet juga sering terjadi. Luluk memberikan contoh, pelatih mungkin memberikan latihan intensif yang dianggap berat dan sulit oleh atlet. Padahal, ini dilakukan dengan tujuan positif untuk perkembangan dan peningkatan keterampilan atlet.
"Kesalahpahaman sering muncul. Ketika atlet diberi latihan berat, mereka kemudian mengeluh kepada orang tua. Oleh karena itu, peran orang tua juga penting sebagai jembatan komunikasi untuk memahami tujuan sebenarnya," tutupnya. (jpg)