Jagosatu.com - Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat mendapat sorotan karena cuaca ekstrem yang bisa membahayakan pemain.
Beberapa kota tuan rumah seperti Miami, Dallas, dan Monterrey dikenal memiliki suhu tinggi saat musim panas.
Para ahli medis memberi peringatan keras kepada FIFA soal potensi heatstroke, yaitu kondisi berbahaya karena tubuh kepanasan.
Heatstroke bisa terjadi saat tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri, terutama dalam aktivitas fisik berat seperti sepak bola.
Menurut laporan The Scottish Sun, pertandingan siang hari berisiko besar membuat pemain mengalami dehidrasi dan kerusakan organ.
FIFPro, organisasi pemain sepak bola dunia, mendesak FIFA agar menjadwal ulang pertandingan yang direncanakan digelar pukul 13.00 waktu setempat.
Banyak pihak menilai jadwal itu terlalu siang dan tidak ramah terhadap kondisi cuaca panas di kota-kota tersebut.
Menurut nypost.com, suhu di beberapa kota tuan rumah bisa mencapai lebih dari 38 derajat Celsius pada siang hari.
Pelatih, pemain, dan tim medis menyuarakan kekhawatiran yang sama soal keselamatan atlet saat bertanding dalam suhu seperti itu.
Jika pertandingan tetap digelar di tengah hari, risiko heat exhaustion dan heatstroke akan semakin tinggi.
Heat exhaustion adalah tahap awal dari heatstroke, ditandai dengan pusing, lemas, dan pingsan.
Kondisi itu bisa menjadi gawat jika tidak segera ditangani oleh tim medis yang sigap.
FIFA sampai saat ini masih belum memberi kepastian apakah mereka akan mengubah waktu kick-off atau tidak.
Beberapa laga bahkan dijadwalkan main di siang hari demi alasan siaran televisi dan keuntungan iklan global.
Namun banyak pengamat menilai bahwa keuntungan komersial tidak boleh mengalahkan keselamatan pemain.
Turnamen sekelas Piala Dunia seharusnya menjunjung tinggi prinsip fair play dan perlindungan kesehatan.
Jika jadwal tidak diubah, bisa jadi Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena gol atau juara, tapi karena banyak pemain tumbang akibat cuaca.
Beberapa dokter olahraga menyarankan agar pertandingan digelar setelah pukul 17.00 waktu setempat agar suhu lebih bersahabat.
Selain itu, penambahan cooling break (waktu istirahat tambahan karena cuaca panas) juga diusulkan secara resmi.
Langkah ini sudah dilakukan FIFA di beberapa turnamen sebelumnya, namun belum tentu cukup efektif untuk kondisi ekstrem.
Tantangan cuaca ekstrem menjadi pekerjaan rumah besar bagi FIFA dalam penyelenggaraan turnamen akbar empat tahunan ini.
Semua mata kini tertuju pada langkah apa yang akan diambil FIFA untuk menghindari tragedi di lapangan hijau.
(db)
Editor : ALengkong