Jagosatu.com-Timnas Indonesia U-23 belum menunjukkan ketajaman yang maksimal di ajang Piala AFF U-23 2025.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, finishing menjadi masalah utama yang membuat Indonesia kesulitan menang besar.
Menurut DetikSport, Indonesia sudah menciptakan banyak peluang, tapi penyelesaian akhirnya kurang efektif.
Contohnya saat melawan Myanmar U-23, Garuda Muda melepaskan total 17 tembakan namun hanya 4 yang tepat sasaran.
Hal ini menjadi perhatian besar karena dominasi penguasaan bola tidak diimbangi dengan gol.
Beberapa peluang emas di depan gawang justru gagal dimaksimalkan oleh para striker.
Pelatih Timnas U-23, Shin Tae-yong, juga menyoroti lemahnya keputusan akhir para pemain di depan gawang.
Menurutnya, pemain muda Indonesia harus belajar lebih tenang saat berada di situasi krusial.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Gagal Bawa Al Nassr Juara, Ternyata Ini Penyebabnya
Masalah finishing ini sebenarnya bukan hal baru bagi Timnas Indonesia di level kelompok umur.
Sudah sejak turnamen-turnamen sebelumnya, masalah penyelesaian akhir jadi tantangan utama.
Beberapa pemain seperti Rafael Struick dan Jeam Kelly Sroyer sebenarnya punya kualitas, tapi belum konsisten.
Dalam sistem permainan ofensif ala Shin Tae-yong, striker dituntut punya insting gol tinggi.
Namun dalam praktiknya, peluang-peluang yang didapat sering kali tak berujung pada gol.
Bahkan dalam laga-laga melawan tim dengan pertahanan rapat, Indonesia kerap terlihat bingung membongkar lini belakang lawan.
Pelatih kiper Timnas U-23, Yoo Jae-hoon, juga mengatakan bahwa para pemain depan masih butuh latihan lebih banyak soal penyelesaian akhir.
Beberapa pemain cenderung terlalu terburu-buru saat menendang bola, sehingga arah bola tidak akurat.
Piala AFF U-23 2025 seharusnya bisa jadi momen untuk mengasah kemampuan menyerang dan menutup peluang lawan.
Namun jika finishing tidak diperbaiki, akan sulit bagi Indonesia untuk melaju jauh di turnamen ini.
Ekspektasi publik cukup besar karena Timnas U-23 punya pemain-pemain dengan potensi bagus.
Kini saatnya evaluasi dilakukan secara serius agar masalah ini tidak terus terulang di masa depan.
(YP)
Editor : Toar Rotulung