JAGOSATU.COM - Air mata Neymar menjadi sorotan setelah Santos, klub masa kecilnya, menelan kekalahan telak 0-6 dari Vasco da Gama pada laga Liga Brasil, Senin (18/8).
Hasil ini bukan hanya membuat posisi Santos makin terpuruk di papan klasemen, tetapi juga tercatat sebagai kekalahan terbesar sepanjang karier Neymar.
Dua gol Vasco dicetak oleh Philippe Coutinho, mantan bintang Liverpool yang baru kembali memperkuat klub masa kecilnya.
Empat gol lainnya disumbang Lucas Piton, David Correa De Fonseca, Rayan, dan Danilo Neves. Kekalahan memalukan ini membuat Santos kini hanya berjarak dua poin dari zona degradasi.
Neymar, yang tak kuasa menahan tangis seusai laga, mengaku sangat terpukul dengan hasil ini. Dalam wawancara usai pertandingan, bintang berusia 33 tahun itu menyebut perasaannya dipenuhi rasa malu dan frustrasi.
“Saya malu. Saya sangat kecewa dengan penampilan kami. Air mata itu keluar karena marah, karena semuanya. Ini benar-benar kacau, itulah kenyataannya,” kata Neymar dengan nada emosional.
Kekalahan ini langsung direspons cepat oleh manajemen Santos yang memecat pelatih kepala Cleber Xavier hanya beberapa jam setelah pertandingan. Langkah ini diambil demi menyelamatkan klub dari ancaman degradasi.
Menariknya, Philippe Coutinho tampil sebagai bintang kemenangan Vasco. Setelah menjalani masa peminjaman sukses, kini ia kembali secara permanen dan langsung memberi dampak besar dengan dua golnya. Bagi Coutinho, laga ini juga menjadi penanda kebangkitan setelah kariernya sempat meredup di Eropa.
Sementara itu, Neymar yang kembali ke Santos pada Januari 2025 sebenarnya sudah memberikan kontribusi dengan enam gol dan tiga assist dalam 19 laga. Namun, performanya masih belum cukup mengangkat tim dari keterpurukan.
Kekalahan telak dari Vasco membuat tuntutan publik semakin besar agar Neymar tampil lebih dominan di laga-laga berikutnya.
Dengan laga berat melawan Bahia menanti, tekanan terhadap Neymar dan Santos semakin meningkat. Para suporter berharap sang bintang mampu menjadi pembeda agar klub kebanggaan mereka bisa keluar dari jurang degradasi.
Editor : Toar Rotulung