Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Pemecatan Nuno Espirito Santo Jadi Alarm Bahaya Bagi Representasi Pelatih Kulit Hitam di Liga Inggris

Toar Rotulung • 2025-09-12 17:43:23

Pelatih Nottingham Forest, Nuno Espirito Santo. (Dok Premierleague))
Pelatih Nottingham Forest, Nuno Espirito Santo. (Dok Premierleague))

JAGOSATU.COM - Sepak bola Inggris tengah menghadapi tantangan besar, bukan hanya di lapangan, melainkan juga di ruang kepelatihan. Pemecatan Nuno Espirito Santo oleh Nottingham Forest pekan ini kembali menegaskan fakta pahit Liga Inggris kini tanpa manajer berkulit hitam.

Situasi ini menghidupkan lagi perdebatan tentang representasi, kesetaraan, dan peluang yang adil bagi pelatih dari latar belakang kulit hitam, Asia, atau campuran.

Samuel Okafor, CEO lembaga amal anti-diskriminasi Kick It Out, menyebut masalah ini bukan baru muncul sekarang, melainkan sudah berlangsung lebih dari satu dekade.

“Kita tahu ada beragam talenta, dan klub harus transparan serta adil dalam praktik rekrutmen mereka. Kita tidak boleh kehilangan generasi lagi karena kurangnya tindakan terkoordinasi,” ujarnya.

Kesenjangan mencolok dalam statistik

Data menunjukkan ketidaksetaraan yang cukup tajam. Laporan dari Black Footballers Partnership pada 2022 mencatat bahwa 43 persen pemain Liga Inggris berkulit hitam. Namun, hanya 4,4 persen posisi manajerial yang diisi oleh pelamar berkulit hitam. Untuk jabatan lebih tinggi seperti eksekutif atau pemilik klub, jumlahnya bahkan lebih rendah, hanya 1,6 persen.

Sejarah pun menunjukkan betapa lambatnya perubahan ini. Ruud Gullit menjadi manajer kulit hitam pertama di Liga Inggris pada 1996 saat menangani Chelsea. Paul Ince kemudian mencatat sejarah sebagai manajer kulit hitam Inggris pertama di kasta tertinggi pada 2008. Lebih baru lagi, Ashvir Singh Johal menjadi manajer Sikh pertama di sepak bola profesional Inggris saat dipercaya melatih Morecambe.

Upaya perbaikan yang masih terbatas

Untuk menjawab masalah ini, Kick It Out meluncurkan strategi Football United awal bulan ini. Tujuannya jelas: meningkatkan jumlah pelatih dari kelompok kurang terwakili agar mendapat kesempatan setara. “Kami ingin posisi kepemimpinan sepak bola benar-benar mencerminkan komunitas lokal,” kata Okafor dalam kesempatan terpisah.

Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) juga bergerak lewat Kode Keberagaman Kepemimpinan Sepak Bola sejak 2020. Lebih dari 50 klub ikut serta, termasuk 19 tim Liga Primer. Namun, efektivitas program ini masih dipertanyakan. Banyak pelatih minoritas yang telah mengikuti program Elite Coaching, tetapi belum mendapat peluang nyata karena proses rekrutmen di klub-klub masih belum inklusif sepenuhnya.

Langkah lain adalah aturan baru yang diberlakukan FA pada 2023. Klub wajib mempublikasikan data keberagaman dua kali setahun, meliputi usia, gender, orientasi seksual, identitas gender, disabilitas, dan etnis. Di sisi lain, Liga Inggris lewat Rencana Aksi Tanpa Ruang untuk Rasisme mendanai program khusus, termasuk Skema Pemain Profesional ke Pelatih dan Skema Keberagaman Inklusi Pelatih. Empat tahun berjalan, program ini melahirkan lebih dari 80 pelatih, dengan 75 kini bekerja penuh waktu.

Risiko kehilangan generasi pelatih

Namun, meski ada sederet program, kenyataan di lapangan menunjukkan perubahan berjalan lambat. Pemecatan Nuno Espirito Santo seakan menjadi cermin bahwa jalan menuju kesetaraan masih panjang. Jika tidak ada tindakan tegas dan terkoordinasi, sepak bola Inggris berisiko kehilangan satu generasi pelatih kulit hitam dan minoritas.

“Banyak pelatih berbakat menyerah lebih awal karena mereka merasa tidak memiliki peluang yang sama. Inilah yang ingin kami ubah. Sepak bola harus menjadi ruang inklusif di semua level, bukan hanya di lapangan,” tambah Okafor.

Momentum untuk bergerak cepat

Kondisi ini memberi pesan kuat bahwa sepak bola Inggris tidak bisa lagi menunda langkah konkret. Perubahan harus dimulai dari transparansi proses rekrutmen, keberanian klub memberi kepercayaan kepada pelatih minoritas, serta komitmen federasi untuk mengawasi pelaksanaannya.

Sepak bola selalu disebut sebagai olahraga rakyat, tempat keberagaman menjadi kekuatan utama. Agar hal itu benar-benar tercermin, Inggris harus memastikan bahwa bakat dari semua latar belakang memiliki peluang adil untuk berkembang, termasuk di kursi kepelatihan.

Editor : Toar Rotulung
#Sepak Bola #Liga Inggris #pelatih