JAGOSATU.COM – Kekalahan 1–2 Barcelona dari Real Madrid di Santiago Bernabéu menjadi tamparan keras bagi skuad asuhan Hansi Flick. Setelah dua kemenangan beruntun atas rival abadi musim lalu, Blaugrana kini harus menelan pil pahit yang menyingkap tiga masalah besar di tubuh tim.
Melansir Sports Illustrated, Barcelona datang ke El Clásico dengan kondisi pincang. Cedera menumpuk, Raphinha absen, dan Flick harus menonton dari tribun akibat kartu merah saat melawan Girona. Di sisi lain, Real Madrid tampil hampir dengan kekuatan penuh, termasuk kembalinya beberapa pemain penting.
Meski skor akhir hanya 1–2, kenyataannya Barcelona beruntung tidak kalah lebih telak. Madrid menciptakan 23 tembakan dengan expected goals (xG) mencapai 3,6—angka yang menunjukkan betapa dominannya tuan rumah sepanjang laga.
1. Barcelona Butuh Bek Baru di Januari
Kehilangan Iñigo Martínez yang hengkang ke Al Nassr terbukti meninggalkan lubang besar. Tanpa pengganti yang sepadan, lini pertahanan Blaugrana terlihat rapuh. Pau Cubarsí memang menjanjikan, tetapi ia kehilangan keseimbangan tanpa senior berpengalaman di sisi lain.
Eric García yang tampil bersama Cubarsí kewalahan menghadapi kecepatan Kylian Mbappé. Madrid dengan mudah mengeksploitasi ruang di belakang duet ini. Flick pun tampak enggan mempercayai Ronald Araújo secara penuh—keputusan yang kini mulai dipertanyakan. Jika situasi ini tak berubah, Barcelona harus mencari bek tengah baru di bursa transfer Januari.
2. Lamine Yamal Harus Belajar Mengendalikan Emosi
Usia muda dan sorotan besar menjadi ujian bagi Lamine Yamal. Sebelum pertandingan, pemain 18 tahun itu sempat memancing kemarahan fans Madrid lewat unggahan media sosial. Akibatnya, ia mendapat tekanan luar biasa di Bernabéu, dengan setiap sentuhan bolanya disambut siulan dan ejekan.
Alih-alih tampil membara, Yamal justru frustrasi dan kehilangan fokus. Ia jarang mengancam dan kalah dalam duel melawan bek kiri Madrid, Álvaro Carreras. Usai pertandingan, emosinya kembali meledak saat terlibat adu mulut dengan Dani Carvajal dan Vinícius Júnior.
Pelajaran penting bagi Yamal: talenta besar harus diimbangi dengan kedewasaan dan kontrol emosi. Di laga besar seperti El Clásico, tekanan mental sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
3. Kartu Merah Pedri Tambah Luka Barcelona
Pedri tampil cukup baik sepanjang laga sebelum akhirnya menerima kartu kuning kedua karena melanggar Aurélien Tchouaméni. Ia pun harus meninggalkan lapangan lebih cepat, membuat Barcelona kehilangan keseimbangan di lini tengah.
Akibat kartu merah ini, Pedri dipastikan absen menghadapi Elche—tim kejutan musim ini—sehingga Flick harus mencari alternatif. Nama Marc Casadó berpeluang besar mendapat kesempatan tampil bersama Frenkie de Jong, meski keduanya sempat dipaksa turun menjadi bek tengah di akhir laga El Clásico.
Menurut Sports Illustrated, Pedri sejatinya menunjukkan performa konsisten musim ini, namun di laga kontra Madrid, Jude Bellingham jauh lebih menonjol. Sentuhan buruk yang berujung pelanggaran di menit akhir mencerminkan kondisi fisik dan mentalnya yang menurun.
Kekalahan ini menjadi refleksi bagi Barcelona. Mereka kalah bukan hanya di papan skor, tetapi juga dalam hal kedalaman skuad, disiplin taktik, dan ketenangan mental.
Dengan jeda sebelum laga Liga Champions melawan Club Brugge, Flick memiliki waktu untuk membenahi kekacauan di timnya—sebelum mimpi mempertahankan gelar La Liga benar-benar sirna.
Editor : Toar Rotulung