Victor Mundur, Pindah Partai atau Siapkan Sekoci?

Hairil Paputungan • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 22:18 WIB
Baso affandi (foto:dok)
Baso affandi (foto:dok)

Oleh Baso Affandi 

JAGOSATU.COM - Hari ini banyak orangi terkesimak. Karena membaca surat pengunduran diri ketua DPW  NASDEM Sulawesi Utara (Sulut), Victor Mailangkai. Selain menjabat Ketua partai besar, ia juga memegang amanah sebagai Wakil Gubernur. Salah satu yang membuatnya terdorong maju suksesi Pilgub pada 2024 silam adalah perahunya Partai Nasdem adalah sohib kental Gerindra yang mengusung Gubernur.

Tentu keputusan politik tersebut menyimpan segudang tanya.

Saat Victor mundur dari posisi Ketua DPW Partai NasDem, publik tidak hanya melihat sebagai pergantian jabatan organisasi. Victor adalah Wagub Sulut, sekaligus figur politik yang selama ini identik dengan NasDem. Pada saat yang sama, ia merupakan pasangan politik Yulius Selvanus Komaling (YSK), yang juga memimpin DPD Partai Gerindra Sulawesi Utara.

SURAT MUNDUR: Arsip surat pengunduran diri Victor Mailangkay sebagai ketua DPW Nasdem Sulut beredar luas di media sosial. Tercantum satu alasan bahwa ia makin sulit mengimbangi langkah politik Felly Runtuwene, rekan se partainya yang menjabat Ketua DPP Nasdem dan Ketua komisi X DPR RI. (foto;ist)
SURAT MUNDUR: Arsip surat pengunduran diri Victor Mailangkay sebagai ketua DPW Nasdem Sulut beredar luas di media sosial. Tercantum satu alasan bahwa ia makin sulit mengimbangi langkah politik Felly Runtuwene, rekan se partainya yang menjabat Ketua DPP Nasdem dan Ketua komisi X DPR RI. (foto;ist)

 

Mulai menarik.

Bukan sekedar mengapa Victor mundur. Akan lebih taktis dan strategis soal apa yang sedang disiapkan Victor setelah mundur.

Dalam politik, sebuah keputusan sering kali baru bisa dibaca maknanya setelah kita melihat langkah berikutnya.

Membaca Langkah Victory

Perilaku elite dapat dibaca melalui konsep political survival, yakni bagaimana seorang aktor politik menjaga keberlanjutan pengaruh dan posisi politiknya di tengah perubahan konfigurasi kekuasaan.

Politisi tidak hanya menghitung kekuatan hari ini. Ia juga membaca kemungkinan perubahan kekuatan besok dan seterusnya

Dalam konteks Sulut, Victor berada pada posisi yang menarik. Berasal dari NasDem, sementara gubernur yang menjadi pasangannya berasal dari Gerindra. Keduanya memenangkan Pilkada Sulut 2024 melalui koalisi lintas partai. KPU mencatat pasangan YSK–Victor memperoleh 539.039 suara atau 36,87 persen.

Dengan demikian, sejak awal pemerintahan YSK–Victor memang memiliki karakter politik yang unik, Gubernur dan Wakil Gubernur berada dalam satu pemerintahan, tetapi memiliki basis partai yang berbeda. Perbedaan tersebut selama ini tidak otomatis menjadi masalah.

Bahkan hingga September 2026, sejumlah politisi dari NasDem maupun Gerindra masih menyampaikan apresiasi terhadap sinergi pemerintahan YSK–Victor.

 

Karena itulah mundurnya Victor dari pucuk pimpinan NasDem menjadi menarik saat hubungan pemerintahan tersebut secara terbuka masih digambarkan berjalan baik dan sangat harmonis.

Hipotesis awal VM Menuju Gerindra?

Spekulasi paling sederhana tentu mengarah ke Gerindra.

Apakah Victor sedang membuka jalan untuk masuk ke partai yang dipimpin YSK di Sulut?

Hipotesis ini secara politik dapat dipahami, tetapi belum dapat disebut sebagai fakta tanpa pernyataan atau keputusan resmi Victor.

Jika benar terjadi, langkah tersebut dapat dibaca sebagai bentuk political realignment, sebagai langkah penyesuaian kembali posisi politik seorang aktor mengikuti perubahan konfigurasi kekuasaan.

Gerindra saat ini berada di lingkar kekuasaan nasional melalui pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tingkat Sulawesi Utara, YSK juga memimpin struktur Gerindra provinsi.

Maka secara teoritis, berpindah dari posisi pimpinan NasDem menuju Gerindra akan mengubah secara signifikan konstruksi politik Victor, tapi jangan buru-buru sampai pada kesimpulan.

Mundur dari NasDem tidak otomatis berarti masuk Gerindra.

Dalam politik, jarak antara keputusan mundur dan keputusan bergabung adalah dua hal yang berbeda.

Hipotesis Kedua, Victor sedang melakukan Politik Antisipatif

Ada pembacaan yang lebih menarik, boleh jadi Victor sedang melakukan politik antisipatif.

Politik antisipatif adalah cara membaca politik dengan mempersiapkan diri terhadap beberapa kemungkinan masa depan, bukan hanya menghadapi keadaan yang sedang terjadi, dalam konteks ini, Victor mungkin sedang memikirkan bagaimana jika konfigurasi politik Sulut berubah?

Bagaimana jika suatu saat YSK memperoleh penugasan politik yang lebih besar di tingkat nasional?

Bagaimana jika terjadi perubahan konstelasi antara pusat dan daerah ?

Bagaimana jika terjadi perubahan hubungan elite ?

Atau bagaimana jika pemerintahan daerah menghadapi persoalan politik maupun hukum yang mengubah keseimbangan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah bagian dari analisis skenario, bukan tuduhan terhadap siapa pun.

Penting ditegaskan bahwa tidak ada dasar yang cukup untuk menyatakan bahwa YSK sedang atau akan tersandung persoalan hukum.

Membicarakan kemungkinan dalam analisis politik tidak boleh diubah menjadi pemberitaan seolah-olah kemungkinan tersebut merupakan fakta.

Namun dalam teori political survival, seorang aktor politik memang lazim menghitung berbagai skenario sebelum mengambil keputusan.

Sekoci Politik atau Jembatan Kekuasaan ?

Di sinilah metafora "sekoci" menjadi relevan, apakah Victor sedang menyiapkan sekoci politik untuk menghadapi perubahan masa depan ?

Atau justru sedang membangun jembatan menuju kekuatan politik yang lebih besar ?

Dua-duanya masih merupakan hipotesis.

Jika kemudian Victor bergabung dengan Gerindra, publik akan membaca pengunduran diri tersebut sebagai bagian dari proses konsolidasi politik baru.

Jika Victor memilih tetap berada di luar partai, maka maknanya bisa berbeda, sebab mungkin ia ingin menempatkan dirinya lebih independen sebagai Wakil Gubernur.

Jika ia kemudian mengambil posisi politik di tingkat nasional, pembacaannya akan kembali berubah.

Jawaban sesungguhnya tidak terletak pada keputusan mundur, melainkan pada langkah berikutnya.

Office-Seeking dan Kalkulasi Elite

Dalam perspektif teori pilihan rasional, Anthony Downs memperkenalkan pendekatan office-seeking, dimana aktor politik memiliki insentif untuk mengejar, mempertahankan, atau memperbesar peluang mendapatkan jabatan dan pengaruh politik.

Namun politik Indonesia jauh lebih kompleks daripada sekadar perebutan jabatan.

Ada partai, jaringan politik, basis massa, sumber daya organisasi, akses kekuasaan dan hubungan elite yang semuanya menjadi bagian dari kalkulasi.

Victor memiliki modal politik yang tidak kecil, ia adalah Wagub Sulut dan sebelumnya memimpin DPW NasDem Sulut. Bahkan pada Agustus 2026, Victor masih menjalankan fungsi konsolidasi organisasi NasDem dan menyerahkan SK kepengurusan sejumlah DPD NasDem kabupaten/kota.

Maka pengunduran diri dari posisi tersebut tidak bisa dibaca hanya sebagai persoalan administratif.

Ada perubahan posisi politik di dalamnya. Jika itu terjadi maka saya penasaran kemana modal politik itu akan diarahkan ?

YSK dan Victor

Membaca Victor tanpa membaca YSK juga tidaklah paripurna.

YSK adalah Gubernur Sulawesi Utara sekaligus Ketua DPD Gerindra Sulut. Victor adalah Wakil Gubernur sekaligus figur yang sebelumnya memimpin NasDem Sulut, artinya, hubungan keduanya memiliki dua dimensi.

Pertama, hubungan pemerintahan.

Kedua, hubungan politik.

Dalam pemerintahan, mereka adalah satu pasangan.

Dalam politik kepartaian, mereka berasal dari kendaraan yang berbeda.

Justru konfigurasi seperti inilah yang membuat pengunduran diri Victor menjadi signifikan.

Jika Victor tetap berada di luar Gerindra, maka duet pemerintahan tersebut tetap mempertahankan karakter lintas partai.

Jika Victor masuk Gerindra, maka terjadi konsolidasi politik yang jauh lebih terkonsentrasi.

Dua skenario tersebut sama-sama memiliki konsekuensi politik.

Jangan Terjebak pada Spekulasi

Politik memang membutuhkan spekulasi, tetapi spekulasi harus tetap memiliki disiplin akademik.

Jangan sampai pertanyaan berubah menjadi tuduhan.

Jangan sampai hipotesis berubah menjadi fakta.

Jangan sampai kemungkinan persoalan hukum terhadap seorang pejabat diperlakukan sebagai sesuatu yang sudah terjadi.

Membaca politik, kita harus membedakan tiga lapisan,

Fakta.

Victor mundur dari posisi Ketua NasDem Sulut.

Interpretasi.

Pengunduran diri tersebut dapat mengubah konfigurasi politiknya.

Hipotesis.

Langkah tersebut mungkin berkaitan dengan konsolidasi menuju Gerindra, strategi independensi, atau persiapan menghadapi perubahan politik di masa depan.

Ketiga hal tersebut tidak boleh dicampuradukkan.

Menarik Bukan Mundurnya, tetapi Langkah Berikutnya

Politik bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi hari ini, politik adalah soal siapa yang sedang menyiapkan posisi selanjutnya.

Victor Mailangkay kini telah membuka ruang tafsir baru, apakah ini sekedar keputusan organisasi? Apakah ini jalan menuju Gerindra? Apakah ini strategi menjaga posisi politik?

Atau justru persiapan menghadapi perubahan konfigurasi kekuasaan di Sulut?

Semua masih terbuka.

Saya kira publik tidak perlu terburu-buru memberikan kesimpulan.

Amati langkah berikutnya.

Jika setelah mundur Victor bergabung dengan Gerindra, maka teka-teki pertama mulai terjawab.

Jika tidak, maka ada kemungkinan desain politik yang berbeda.

Sebab dalam politik, keputusan pertama kadang bukan tujuan.

Ia hanya pembuka jalan.

Dalam kasus Victor Mailangkay, pertanyaan terbesarnya sekarang bukan lagi so "Mengapa Victor mundur dari NasDem ?", melainkan "Ke mana Victor sedang melangkah?"***

*Penulis adalah warga Manado, Sulawesi Utara

Editor : Hairil Paputungan
Victor Mailangkay Mundur dari Ketua Nasdem Sulut