Jaga Irama, Rawat Optimisme, Tatap Kejayaan

Hairil Paputungan • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 11:30 WIB
foto:dok
foto:dok

Refleksi 62 Tahun Partai Golkar

Oleh: Baso Affandi*

JAGOSATU.COM - Begitu banak organisasi yang hidup dari kebesaran masa lalunya. Ada pula organisasi yang menjadikan sejarah sebagai modal untuk melangkah ke masa depan. Pada usia ke-62 tahun, Partai Golkar menghadapi sebuah pertanyaan penting: apakah pengalaman panjang yang dimilikinya cukup untuk mengantarkan partai ini kembali ke puncak kejayaan, atau justru dibutuhkan keberanian untuk mengubah cara berpikir, cara bekerja, dan cara berkomunikasi dengan rakyat ?

Politik tidak pernah berhenti bergerak. Basis pemilih berubah, generasi muda memiliki cara pandang yang berbeda, teknologi mengubah pola komunikasi dan masyarakat semakin kritis dalam menilai partai politik. Dalam keadaan seperti ini, organisasi yang ingin bertahan tidak cukup hanya mengandalkan jaringan, pengalaman dan nama besar. Ia harus mampu membaca zaman.

Di sinilah usia 62 tahun Golkar menemukan maknanya. Bukan semata-mata tentang berapa lama sebuah partai bertahan, melainkan tentang seberapa jauh pengalaman tersebut dapat diubah menjadi kemampuan untuk menjawab tantangan masa depan.

Kepemimpinan Muda dan Energi Pembaruan

Salah satu sumber optimisme Golkar hari ini adalah hadirnya kepemimpinan generasi muda di tingkat pusat maupun daerah. Pergantian generasi dalam organisasi politik bukan sekadar perubahan usia para pemimpin. Lebih jauh, ia menyangkut perubahan perspektif, kecepatan merespons persoalan, keberanian mengambil keputusan dan kemampuan memahami aspirasi masyarakat yang terus berkembang.

Buku The Leadership Challenge, James M. Kouzes dan Barry Z. Posner menjelaskan bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya bertumpu pada jabatan formal, tetapi juga pada kemampuan memberikan teladan, membangun visi bersama, menantang kebiasaan yang tidak lagi relevan, serta mendorong orang lain untuk bertindak.

Perspektif ini penting bagi Golkar. Anak muda yang memperoleh kepercayaan memimpin tidak boleh berhenti sebagai simbol regenerasi. Mereka harus tampil sebagai pembawa gagasan, penggerak organisasi dan pelayan masyarakat. Regenerasi baru memiliki arti apabila menghasilkan peningkatan kualitas kepemimpinan.

Golkar memiliki modal sejarah, jaringan politik, pengalaman pemerintahan, serta struktur organisasi yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Jika modal tersebut bertemu dengan energi generasi muda, sesungguhnya tersedia ruang yang besar untuk membangun kekuatan politik yang lebih adaptif.

Namun, optimisme itu perlu diletakkan secara proporsional. Usia muda tidak otomatis melahirkan kepemimpinan yang baik, sebagaimana pengalaman panjang tidak selalu menjamin kemampuan berinovasi. Keduanya harus dipertemukan: pengalaman menjadi fondasi, sedangkan energi muda menjadi penggerak pembaruan.

Tantangan Golkar adalah memastikan bahwa kaderisasi tidak berhenti pada pergantian orang, tetapi juga menghadirkan pergantian cara berpikir.

Bahlil Lahadalia dan Kelenturan Membaca Politik

Dalam membaca arah Golkar ke depan, perhatian tentu tertuju pada Ketua Umumnya, Bahlil Lahadalia. Kepiawaiannya membaca situasi politik, membangun komunikasi dan menempatkan diri di tengah dinamika kekuasaan menjadi salah satu faktor yang patut diperhatikan.

Politik Indonesia bukan ruang yang selalu bergerak dalam garis lurus. Di dalamnya ada perbedaan kepentingan, persaingan elite, perubahan konstelasi, dan tuntutan untuk membangun kesepahaman. Karena itu, kemampuan menjaga hubungan tanpa kehilangan arah organisasi merupakan keterampilan kepemimpinan yang penting.

Bahlil memperlihatkan gaya komunikasi yang relatif lentur dan mudah menarik perhatian publik. Kelenturan seperti ini, apabila dikelola dengan prinsip dan orientasi yang jelas, dapat menjadi modal politik yang berarti. Ia membuka ruang dialog, mengurangi ketegangan yang tidak produktif, dan memungkinkan perbedaan diterjemahkan menjadi komunikasi.

Akan tetapi, kelenturan bukan berarti kehilangan pendirian. Pemimpin yang baik harus mampu membedakan kapan perlu berkompromi, kapan harus mempertahankan prinsip, dan kapan mesti mengoreksi kebijakan. Keluwesan tanpa arah dapat berubah menjadi oportunisme; sebaliknya, keteguhan tanpa kemampuan beradaptasi dapat membuat organisasi kehilangan relevansi.

Dalam bukunya On Becoming a Leader, Warren Bennis menempatkan kemampuan memahami diri, membangun visi, serta mengembangkan hubungan dengan orang lain sebagai unsur penting kepemimpinan. Jika perspektif ini digunakan untuk membaca Golkar, maka kekuatan seorang ketua umum bukan hanya terletak pada kemampuannya mengkonsolidasikan elite, tetapi juga pada kemampuannya membuat organisasi tetap relevan bagi masyarakat.

Bahlil mempunyai peluang untuk mengembangkan modal tersebut. Namun, ukuran keberhasilannya pada akhirnya bukan sekadar seberapa luas pergaulan politiknya, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keberadaan Golkar.

Ketika Lagu MBG Menjadi Pelajaran Komunikasi Politik

Saya teringat pada fenomena lagu viral “MBG—Mas Bahlil Ganteng”. Di tengah riuhnya media sosial, sebuah lagu bernuansa jenaka yang menjadikan Bahlil sebagai bahan perbincangan menyebar luas dan melintasi batas kelompok sosial. Bahlil tidak semata-mata menanggapinya sebagai bahan untuk marah atau berkonflik. Ia justru menunjukkan ketertarikan terhadap kreativitas pembuatnya dan menyatakan keinginan untuk bertemu. Pertemuan dengan kreator lagu tersebut kemudian diberitakan pada akhir Juli 2026.

Fenomena ini menarik bukan karena sebuah lagu pujian atau parodi tiba-tiba menjadi populer, melainkan karena kita dapat melihat bagaimana seorang tokoh politik merespons budaya komunikasi masyarakat digital.

Dalam politik, kritik, candaan, sindiran, dan pujian sering hadir dalam ruang yang sama. Respons seorang pemimpin terhadap semua itu dapat menentukan apakah sebuah peristiwa berkembang menjadi konflik atau justru menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.

Jika seorang pemimpin mudah tersinggung oleh setiap candaan, ia berisiko menciptakan jarak dengan masyarakat. Sebaliknya, apabila ia mampu merespons dengan tenang, menghargai kreativitas, dan tetap menjaga martabat, situasi yang semula berpotensi menjadi bahan ejekan dapat berubah menjadi momentum komunikasi.

Di sini saya melihat sebuah pelajaran penting: tidak semua hal harus dijawab dengan kemarahan, dan tidak semua kritik harus dihadapi dengan konfrontasi. Ada kalanya humor justru menjadi jembatan yang mempertemukan dunia politik dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pendekatan ini berhubungan dengan pemikiran Marshall McLuhan dalam Understanding Media: The Extensions of Man. McLuhan mengingatkan kita bahwa medium komunikasi turut membentuk cara pesan diterima dan dipahami. Dalam ekosistem digital, pesan politik tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh pidato resmi, konferensi pers, atau iklan partai. Ia bergerak melalui video pendek, meme, lagu, percakapan, dan kreativitas pengguna media sosial.

Olehnya, partai politik yang ingin menjangkau generasi muda harus memahami bahasa komunikasi mereka. Bukan dengan memaksakan semua pesan menjadi hiburan, melainkan dengan menyampaikan gagasan secara lebih manusiawi, terbuka, dan mudah dipahami.

Kisah lagu MBG juga mengajarkan bahwa perhatian publik tidak selalu lahir dari strategi komunikasi yang mahal. Kadang-kadang, sebuah peristiwa sederhana dapat membuka ruang komunikasi yang jauh lebih luas. Namun, perhatian seperti itu belum tentu berubah menjadi kepercayaan politik. Popularitas harus diikuti kerja nyata, dan kedekatan simbolis harus dibuktikan melalui pelayanan.

Kemampuan komunikasi perlu diuji lebih jauh: apakah ia sekedar membuat seorang tokoh dibicarakan, atau mampu membantu masyarakat memahami apa yang diperjuangkan oleh partai yang dipimpinnya ?

Magnet Publik Menuju Kepercayaan Politik

Nama Bahlil yang disebut dalam berbagai forum politik, termasuk ketika mendapat sambutan dari hadirin, dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika pengenalan dan penerimaan seorang tokoh di ruang publik. Begitu pula ketika Presiden Prabowo Subianto menyebutnya dalam pidato-pidato tertentu, hal tersebut menunjukkan bahwa Bahlil hadir dalam percakapan politik nasional.

Meski demikian, sambutan meriah dan tepuk tangan tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti dukungan elektoral. Dalam kajian politik, popularitas, penerimaan elite, kepercayaan masyarakat, dan pilihan dalam pemilu merupakan hal yang saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Untuk mengukur kekuatan politik Golkar secara lebih objektif, diperlukan indikator yang lebih terukur: tren elektabilitas dari survei yang kredibel, pertumbuhan dan kualitas kader, kinerja wakil rakyat, efektivitas program pelayanan, serta kemampuan partai mempertahankan dukungan di berbagai daerah.

Pembedaan ini penting agar optimisme tidak berubah menjadi euforia. Sambutan publik dapat menjadi modal awal, tetapi kepercayaan politik harus dibangun melalui konsistensi.

Dalam The Social Construction of Reality, Peter L. Berger dan Thomas Luckmann membahas bagaimana realitas sosial dibentuk dan dipertahankan melalui interaksi manusia. Dalam konteks komunikasi politik, citra seorang tokoh berkembang melalui percakapan, pengalaman, pemberitaan, dan penilaian masyarakat. Akan tetapi, citra yang terbentuk melalui komunikasi akan selalu berhadapan dengan pengalaman nyata warga.

Artinya, komunikasi yang baik dapat membuka pintu, tetapi pelayananlah yang menentukan apakah masyarakat bersedia bertahan di dalamnya.

Bagi Golkar, tugas berikutnya bukan sekadar menjaga agar nama ketua umumnya tetap menjadi perhatian publik. Yang lebih penting adalah menerjemahkan perhatian itu menjadi pengetahuan masyarakat tentang program, keberpihakan, dan hasil kerja partai.

Menjaga Irama dengan Elite, Memperkuat Tegur Sapa dengan Rakyat

Bayangan bahwa Golkar dapat kembali menapaki jalan kejayaannya mulai terlihat sebagai sebuah kemungkinan politik. Namun, kemungkinan bukanlah kepastian. Jalan menuju ke sana membutuhkan konsistensi, kedisiplinan organisasi, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara komunikasi elite dengan kedekatan kepada rakyat.

Golkar perlu menjaga ritme komunikasi dengan partai-partai lain, pemerintah, dan berbagai kelompok strategis. Dalam sistem politik yang mengandalkan kerja sama dan negosiasi, kemampuan membangun hubungan merupakan modal penting. Hubungan yang terpelihara dapat membuka ruang untuk memperjuangkan agenda kebijakan dan menjaga stabilitas organisasi.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: partai politik tidak didirikan hanya untuk menjaga hubungan antarelite. Partai juga harus hadir di tengah kehidupan masyarakat.

Olehnya, di samping komunikasi formal dan pertemuan politik, Golkar perlu memperkuat tegur sapa yang sederhana tetapi bermakna. Mendengarkan keluhan pedagang kecil, berdialog dengan petani dan nelayan, memperhatikan kesulitan pekerja, membantu anak muda memperoleh akses pendidikan dan pekerjaan, serta memastikan bahwa aspirasi warga tidak berhenti sebagai catatan rapat.

Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang pemilu. Ia harus menjadi kebiasaan organisasi sepanjang waktu.

Dalam Making Democracy Work, Robert D. Putnam menunjukkan pentingnya jaringan sosial, kepercayaan, dan norma kerja sama bagi berfungsinya institusi. Perspektif ini dapat menjadi pengingat bahwa kekuatan organisasi tidak hanya berada pada struktur formal, melainkan juga pada hubungan sosial yang dibangun dan dirawat secara konsisten.

Bagi Golkar, gagasan itu dapat diterjemahkan ke dalam kerja yang konkret. Struktur partai harus menjadi saluran aspirasi, bukan sekadar jalur instruksi. Kader di daerah harus diberi ruang untuk menyampaikan persoalan masyarakat, bukan hanya diminta menjalankan agenda pusat. Wakil rakyat harus mampu menunjukkan hubungan yang jelas antara aspirasi warga, proses legislasi, pengawasan, dan hasil kebijakan.

Kepemimpinan muda di pusat dan daerah memperoleh ujian sesungguhnya. Mereka harus mampu menghubungkan kecepatan komunikasi digital dengan kesabaran mendengar persoalan warga. Mereka harus mampu membangun jaringan politik sekaligus membangun kepercayaan sosial.

Jika kedua hal ini berjalan beriringan, Golkar memiliki peluang memperkuat fondasi politiknya untuk menghadapi pemilu mendatang.

Menjadikan Usia 62 Tahun sebagai Titik Tolak

Enam puluh dua tahun adalah perjalanan yang panjang. Ia menyimpan pengalaman, perubahan zaman, keberhasilan, tantangan, dan pelajaran yang tidak sedikit. Akan tetapi, usia organisasi tidak dengan sendirinya menjamin masa depan. Sejarah hanya akan bernilai apabila mampu menjadi sumber pembelajaran bagi tindakan hari ini.

Dalam konteks ini, QS. Ar-Ra'd ayat 11 memberikan inspirasi yang relevan: perubahan keadaan berkaitan dengan perubahan yang dilakukan suatu kaum terhadap dirinya sendiri. Ayat tersebut bukan ramalan tentang masa depan Golkar, melainkan pengingat tentang pentingnya ikhtiar, pembaruan, dan tanggung jawab.

Golkar perlu menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri. Apakah kaderisasi berjalan dengan baik? Apakah generasi muda benar-benar memperoleh ruang kepemimpinan? Apakah komunikasi partai sudah menjangkau masyarakat yang selama ini kurang terdengar? Apakah kebijakan yang diperjuangkan memberikan manfaat yang dapat dirasakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting daripada sekedar menghitung berapa banyak ucapan selamat yang diterima atau seberapa meriah sebuah perayaan berlangsung.

Bila Golkar mampu menjaga soliditas internal tanpa menutup ruang kritik, memperkuat hubungan politik tanpa kehilangan independensi sikap, serta membangun popularitas yang diikuti kerja nyata, optimisme terhadap masa depannya mempunyai dasar yang lebih kokoh.

Bahlil Lahadalia memiliki kesempatan untuk memimpin proses tersebut. Kelenturan komunikasi, kemampuan membaca momentum, dan energi regenerasi dapat menjadi modal. Tetapi keberhasilan kepemimpinan akan ditentukan oleh kemampuannya mengubah modal itu menjadi organisasi yang semakin berkualitas dan semakin bermanfaat.

Sebab, kejayaan partai bukan semata-mata ketika pemimpinnya mendapat tepuk tangan, melainkan ketika masyarakat mempunyai alasan yang kuat untuk mempercayainya.

Selamat ulang tahun ke-62 Partai Golkar.

Semoga perjalanan panjang ini menjadi sumber kebijaksanaan, bukan alasan untuk berpuas diri. Semoga kepemimpinan generasi muda membawa energi pembaruan, dan semoga kelenturan politik Bahlil Lahadalia mampu dirawat sebagai kecakapan membangun komunikasi yang sehat, produktif, dan berpihak pada kepentingan bangsa.

Jalan menuju kejayaan mungkin telah mulai terbuka, tetapi perjalanan itu belum selesai. Golkar harus menjaga irama, merawat soliditas, memperkuat kualitas kader, dan memperbanyak tegur sapa dengan rakyat.

Masa depan Golkar tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin hari ini, tetapi juga oleh bagaimana organisasi ini menyiapkan generasi berikutnya dan seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Enam puluh dua tahun adalah modal sejarah. Masa depan adalah pekerjaan bersama. Dan kejayaan hanya akan bermakna apabila ia berjalan seiring dengan kepercayaan rakyat.***

*Penulis adalah Direktur Eksekutif Barometer Suara Indonesia

 

Editor : Hairil Paputungan
HUT ke-62 Partai Golkar