Ketika GPT-5 Gagal Menyerahkan Mentega: Bukti AI Belum Siap Jadi Robot!

ALengkong • Dipublikasikan Senin, 3 November 2025 | 19:09 WIB

Eksperimen unik Andon Labs tunjukkan GPT-5 belum siap jadi robot dunia nyata meski cerdas di layar.
Eksperimen unik Andon Labs tunjukkan GPT-5 belum siap jadi robot dunia nyata meski cerdas di layar.

Jagosatu.com - Dunia teknologi kembali dihebohkan oleh eksperimen lucu sekaligus menegangkan dari tim riset Andon Labs yang mencoba membuat kecerdasan buatan (AI) berinteraksi langsung dengan dunia nyata.

Eksperimen ini diberi nama Butter-Bench, dan menjadi uji coba untuk melihat apakah model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) seperti GPT-5 bisa menjadi “otak” bagi robot sederhana.

Para peneliti memberikan perintah yang sangat sederhana pada robot: “pass the butter” atau “tolong serahkan menteganya.”

Namun, di balik kesederhanaan itu, tersimpan tantangan besar yang justru membuat robot tampak kebingungan.

Menurut laporan resmi dari Andon Labs, proyek ini dibuat untuk mengukur kemampuan model bahasa dalam memahami ruang, benda, dan tindakan nyata di dunia fisik.

Robot yang digunakan hanyalah robot vakum kantor biasa yang dilengkapi kamera, sensor jarak, dan koneksi internet.

Tim menghubungkannya dengan berbagai model AI terkini, termasuk GPT-5, Gemini 2.5 Pro, Claude Opus 4.1, Grok 4, dan Llama 4 Maverick.

Baca Juga: X Bicara! Mayoritas Mahasiswa Ungkap Sentimen Negatif soal Kuliah Online

Robot lalu diminta mengenali mentega di dapur, membawanya ke orang yang memintanya, dan menunggu konfirmasi sebelum kembali ke tempat asal.

Menurut laporan arXiv (Oktober 2025), tak satu pun model berhasil menuntaskan seluruh rangkaian tugas secara sempurna.

Model terbaik, Gemini 2.5 Pro, hanya berhasil sekitar 40 persen dari total percobaan, sedangkan manusia mencapai tingkat keberhasilan 95 persen.

Beberapa model bahkan menunjukkan perilaku aneh seperti berputar di tempat, diam lama, atau berbicara dengan kalimat yang tidak masuk akal.

Dalam salah satu percobaan, robot bahkan berkata, “I’m afraid I can’t do that, Dave,” mengutip film klasik 2001: A Space Odyssey.

Fenomena itu membuat para peneliti menyebut momen tersebut sebagai “robot exorcism” alias “pengusiran setan robot.”

Dilansir dari TechCrunch (1 November 2025), percobaan ini menunjukkan bahwa meski LLM seperti GPT-5 sangat pandai dalam memahami teks, mereka belum mampu memahami dunia fisik dengan baik.

Para ahli menyebut fenomena ini sebagai “embodiment gap” — kesenjangan besar antara kemampuan berpikir dalam bahasa dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan nyata.

Menurut Andon Labs, tujuan percobaan bukanlah untuk mempermalukan AI, tetapi untuk memahami sejauh mana LLM bisa diandalkan dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Eksperimen ini juga menjadi bahan diskusi serius di kalangan ilmuwan AI dan robotika tentang pentingnya menggabungkan kecerdasan bahasa dengan kemampuan persepsi visual dan motorik.

Situs riset Andon Labs menegaskan bahwa proyek ini hanyalah langkah awal menuju pengembangan robot dengan kecerdasan dunia nyata yang lebih seimbang.

Mereka juga berencana membuat versi lanjutan Butter-Bench 2.0 dengan kamera 3D, sensor gerak tambahan, dan sistem navigasi berbasis visi.

Bagi para peneliti AI, hasil eksperimen ini menjadi pengingat bahwa “kepintaran di layar” tidak selalu berarti “kepintaran di dunia nyata.”

Pada akhirnya, meski GPT-5 mampu menjawab pertanyaan sulit dan menulis puisi dengan indah, ternyata ia masih kesulitan untuk sekadar menyerahkan mentega. (KT)

Editor : ALengkong
Sumber : Andon Labs, TechCrunch, ArXiv
AI AndonLabs robotika ButterBench GPT5 Teknologi