Studio Ghibli VS OpenAI: Anime Legendaris Menyerbu AI – Apa yang Sebenarnya Terjadi?

ALengkong • Dipublikasikan Selasa, 4 November 2025 | 13:26 WIB

Ketika dunia anime menantang kecerdasan buatan yang meniru gaya khasnya.
Ketika dunia anime menantang kecerdasan buatan yang meniru gaya khasnya.

Jagosatu.com – Dunia teknologi dan hiburan kembali panas setelah Studio Ghibli dan beberapa penerbit besar Jepang menuntut OpenAI berhenti menggunakan karya mereka untuk melatih model kecerdasan buatan.

Studio legendaris di balik film seperti Spirited Away dan My Neighbor Totoro itu merasa gaya khas animasinya digunakan tanpa izin dalam sistem AI milik OpenAI.

Tuntutan ini muncul melalui asosiasi resmi bernama Content Overseas Distribution Association atau CODA.

CODA mewakili berbagai perusahaan besar Jepang seperti Bandai Namco, Aniplex, Square Enix, dan tentunya Studio Ghibli.

Menurut laporan The Verge, surat resmi dikirimkan ke OpenAI pada akhir Oktober 2025.

Isi surat itu menegaskan bahwa karya berhak cipta milik anggotanya tidak boleh dipakai untuk pelatihan model AI seperti Sora 2 tanpa izin terlebih dahulu.

Dilansir dari TechCrunch, CODA menilai hasil video dari model OpenAI memiliki kemiripan yang mencolok dengan gaya animasi Jepang.

Baca Juga: GEMINI DI IPHONE?! Apple Bayar Mahal Google Demi 'Nyawa' Baru Siri 2026: Intip Bocoran Fitur yang Bikin Asisten Virtual Lain Nangis!

Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa data pelatihan AI diambil dari film, game, atau ilustrasi tanpa persetujuan pencipta aslinya.

Dalam sistem hukum Jepang, izin sebelumnya dari pemilik hak cipta adalah hal yang wajib sebelum menggunakan materi apa pun untuk kepentingan lain.

Mekanisme "opt-out" atau meminta penghapusan setelah data dipakai dianggap tidak cukup adil bagi kreator.

Studio Ghibli sendiri selama ini dikenal sangat ketat menjaga nilai artistik dan moral dari karyanya.

Mereka khawatir generative AI bisa menciptakan tiruan “gaya Ghibli” tanpa menghormati proses seni dan makna di baliknya.

Futurism melaporkan bahwa perdebatan ini semakin memanas karena model AI OpenAI disebut menghasilkan video bergaya anime yang sangat mirip dengan produksi Ghibli.

Bahkan, sempat ramai ketika CEO OpenAI, Sam Altman, menggunakan avatar bergaya Ghibli di profil media sosialnya.

Bagi para kreator Jepang, tindakan seperti itu menjadi simbol betapa mudahnya karya seni mereka dipakai tanpa kontrol.

Sementara itu, OpenAI belum memberikan tanggapan resmi yang memuaskan terkait tuntutan dari CODA.

Namun, isu ini memicu diskusi global soal bagaimana data untuk melatih AI seharusnya diperoleh.

Pakar hak cipta mengatakan bahwa tanpa aturan jelas, AI bisa terus menggunakan karya berhak cipta secara sembunyi-sembunyi.

Banyak pihak menilai langkah Jepang bisa menjadi contoh baru dalam menegakkan etika pelatihan AI di dunia kreatif.

Apalagi Jepang adalah salah satu pusat budaya visual terbesar di dunia dengan ekspor anime dan game yang mendunia.

Jika OpenAI gagal memenuhi permintaan tersebut, potensi gugatan hukum bisa saja terjadi di masa depan.

Bagi penggemar anime, kasus ini membuka mata bahwa seni yang mereka cintai kini juga jadi bahan perebutan dalam dunia teknologi.

Konflik antara kreativitas manusia dan kecerdasan buatan ini seakan menandai era baru di mana seni dan algoritma saling bersinggungan.

Pertanyaannya kini, apakah AI bisa belajar menghargai karya manusia, bukan sekadar menirunya? (KT)

Editor : ALengkong
Sumber : Futurism, The Verge, TechCrunch, automaton-media.com
AI HakCipta openai StudioGhibli Anime Teknologi