WASHINGTON – Setelah keberhasilan Artemis II, NASA langsung bergeser ke tahap berikutnya. Badan Antariksa AS tersebut menyiapkan Artemis III. Targetnya, menguji pertemuan dan penyambungan (docking) kapsul Orion Spacecraft dengan wahana pendarat di orbit Bumi pada 2027.
Pada misi sebelumnya, Artemis II menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah lebih dari 50 tahun. Misi itu tidak hanya mencetak tonggak teknis, mulai pengamatan sisi jauh bulan hingga rekor jarak tempuh manusia, tetapi juga meningkatkan tekanan pada fase berikutnya.
Kini NASA harus memastikan seluruh sistem pendaratan bekerja tanpa celah dalam skenario yang jauh lebih kompleks. Tekanan operasional pun langsung mengarah ke Artemis III. "Misi berikutnya sudah di depan mata," ujar Entry Flight Director NASA Rick Henfling sebagaimana dikutip Fortune kemarin (14/4).
Di sisi teknis, kesiapan mulai terlihat konkret. Perangkat docking untuk Artemis III telah tersedia di Kennedy Space Center, Florida. Starship versi terbaru mendekati uji terbang dari Texas Selatan. Sementara Blue Moon dalam versi awal dijadwalkan melakukan uji pendaratan dalam waktu dekat.
Artemis III difokuskan pada uji pertemuan dan penyambungan (docking) antara kapsul Orion dan wahana pendarat di orbit Bumi. Tahap itu menandai pergeseran ke fase validasi sistem yang lebih ketat, bukan sekadar simulasi. NASA menjadikannya strategi mitigasi risiko sebelum operasi dijalankan di orbit Bulan. Hal itu mengacu pada pendekatan Apollo 9 yang terbukti efektif menekan potensi kegagalan.
Baca Juga: PM Jepang Percepat Revisi Konstitusi Peran Militer
Kompetisi
Di titik itulah kompetisi sektor swasta menjadi faktor penentu. SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos kini bersaing menyiapkan wahana pendarat di Bulan masing-masing. Starship (SpaceX) dan Blue Moon (Blue Origin) diposisikan sebagai kandidat utama dalam kontrak Artemis IV yang menjadi pintu masuk pendaratan berikutnya.
Persaingan itu tidak berdiri sendiri, tetapi terkait langsung dengan ambisi jangka panjang NASA. Artemis IV direncanakan menarget wilayah kutub selatan Bulan, area strategis yang diyakini menyimpan cadangan es dalam jumlah besar di kawah yang tidak pernah terkena sinar matahari. Es itu berpotensi diolah menjadi air dan bahan bakar, fondasi bagi pembangunan pangkalan permanen di Bulan.
Nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai USD 30 miliar (Rp 512,7 triliun). Dengan skala investasi sebesar itu, persaingan Musk dengan Bezos akan menentukan dominasi ekonomi dalam ekosistem antariksa masa depan.
"Bagi orang-orang di seluruh dunia yang menatap langit dan bermimpi tentang apa yang mungkin, penantian panjang itu telah berakhir," ungkap Administrator NASA Jared Isaacman. (din/dri)
Editor : Pratama Karamoy