Menjadi Developer di Era AI, Pemahaman dan Kemampuan Berpikir Tetap Jadi Kunci

ALengkong • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 17:10 WIB
Muhammad Agung Rizkyana saat menyampaikan materi "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" dalam seminar FILKOM DAY 2026 di Universitas Klabat.
Muhammad Agung Rizkyana saat menyampaikan materi "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" dalam seminar FILKOM DAY 2026 di Universitas Klabat.
 

MANADO POST — Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam dunia teknologi, termasuk cara seorang software developer membangun dan mengembangkan aplikasi. Kemudahan yang ditawarkan AI membuat proses pemrograman menjadi lebih cepat. Namun, kemampuan memahami kode dan berpikir kritis tetap menjadi hal penting yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi tersebut.

 

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam seminar FILKOM DAY 2026 bertajuk "Your Future in Tech: Becoming a Developer in the Age of AI" yang dibawakan oleh Muhammad Agung Rizkyana di Universitas Klabat dalam acara Filkom Day , Rabu (5/11/2026). Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa istilah Artificial Intelligence telah dikenal sejak dekade 1950-an. Namun, perkembangan AI semakin pesat berkat tiga faktor utama, yaitu peningkatan daya komputasi, ketersediaan dataset dalam jumlah besar, serta kemajuan arsitektur deep learning.

 

Agung juga menjelaskan bagaimana AI bekerja melalui proses input, machine learning, hingga menghasilkan output. Salah satu contoh penerapannya dapat ditemukan pada layanan Google Maps. Perkembangan AI turut mengubah Software Development Life Cycle (SDLC), yaitu tahapan pengembangan perangkat lunak. Jika sebelumnya developer mengerjakan berbagai proses secara manual, kini AI dapat membantu mempercepat sejumlah pekerjaan, mulai dari penulisan kode hingga tugas-tugas berulang.

 

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kemudahan menggunakan AI juga memiliki risiko, terutama ketika seseorang terlalu bergantung pada hasil yang diberikan tanpa memahami proses di baliknya. Ia menyampaikan pesan, "You can delegate thinking, but not understanding." Pesan tersebut menegaskan bahwa meskipun sebagian pekerjaan dapat diserahkan kepada AI, pemahaman dan kemampuan mengevaluasi hasil tetap harus dimiliki oleh penggunanya.

 

Untuk menggambarkan hal tersebut, Agung menggunakan analogi sepeda motor manual dan otomatis. Motor otomatis lebih mudah digunakan karena pengendara hanya perlu mengatur gas dan rem, sedangkan motor manual membutuhkan keterampilan tambahan dalam mengoperasikan kopling. Analogi ini menggambarkan bagaimana AI dapat mempermudah pekerjaan, tetapi kemampuan dasar tetap diperlukan agar seseorang mampu mengendalikan dan memahami hasil pekerjaannya.

 

Selain membahas perkembangan teknologi, Agung memperkenalkan metode SMART sebagai pendekatan untuk membangun proses belajar yang lebih terstruktur. Metode tersebut terdiri dari Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound. Ia juga membagikan empat aturan dalam menggunakan AI, yaitu memanfaatkannya untuk pekerjaan berulang, mengenali kebutuhan diri sendiri, membangun aturan atau workflow penggunaan AI, serta mengutamakan kejelasan instruksi saat berinteraksi dengan teknologi.

 

 

Melalui seminar ini, peserta diajak untuk tidak hanya mengikuti perkembangan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya dan memanfaatkannya secara bijak. AI dapat menjadi pengganda kemampuan manusia, tetapi kualitas hasil yang diperoleh tetap bergantung pada pemahaman, keterampilan, dan kemampuan penggunanya dalam menghadapi perkembangan dunia teknologi.

 

Editor : ALengkong
Filkomday FacultyDay AI UNKLAB seminar