JAGOSATU.COM - Starlink, layanan internet berbasis satelit dari SpaceX, baru saja mulai beroperasi di Indonesia sejak diresmikan di Bali pada Minggu (19/5). Kehadirannya menuai berbagai reaksi, terutama karena dianggap membawa perubahan besar bagi akses internet di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Starlink menggunakan satelit jenis Low Earth Orbit (LEO), yang berada pada ketinggian 500 hingga 1.200 km dari permukaan bumi. Karena jaraknya yang dekat dengan Bumi, satelit LEO memiliki waktu transmisi data yang rendah, sehingga mampu memberikan koneksi internet cepat.
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie mengatakan bahwa Starlink akan melengkapi teknologi telekomunikasi di Indonesia. "Satelit Starlink melengkapi teknologi yang ada," ujarnya dalam rapat dengan Komisi I DPR RI pada Senin (10/6). Namun, tidak semua pihak setuju dengan kehadiran Starlink. Beberapa anggota DPR mengkritik dugaan adanya "karpet merah" bagi investasi ini.
Ada tiga jenis utama satelit berdasarkan orbitnya: Low Earth Orbit (LEO), Medium Earth Orbit (MEO), dan Geostationer Earth Orbit (GEO). Low Earth Orbit (LEO) berada pada ketinggian 500 hingga 1.200 km dari permukaan Bumi dan digunakan untuk koneksi broadband internet, terutama untuk enterprise, SME, dan pemerintahan, serta untuk kebutuhan sains dan pencitraan.
Kelebihan LEO adalah waktu transmisi data yang rendah karena dekat dengan Bumi, dan Indonesia telah mengajukan 13,4 ribu slot satelit LEO. Medium Earth Orbit (MEO) berada pada ketinggian 5.000 hingga 20.000 km dari permukaan Bumi dan digunakan untuk satelit GPS dan navigasi, serta konektivitas data berlatensi rendah dan bandwidth tinggi.
MEO memiliki waktu transmisi data yang lebih rendah dibandingkan satelit GEO, tetapi lebih tinggi dari LEO. Geostationer Earth Orbit (GEO) berada pada ketinggian 36.000 km dari permukaan Bumi dan digunakan untuk layanan data cuaca, siaran TV, dan komunikasi data dengan throughput rendah. Keunggulan GEO adalah dapat tetap berada di atas satu titik di Bumi, sehingga bisa melayani satu lokasi secara terus menerus. Cukup tiga satelit GEO untuk cakupan global.
Starlink diharapkan dapat meningkatkan akses internet di Indonesia, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh infrastruktur telekomunikasi konvensional. Meski demikian, kritik dan kontroversi tetap mewarnai kehadirannya di tanah air.
Editor : Prisilia Rumengan