Jagosatu.com - Pada hari Jumat, 21 Februari 2025, dunia crypto dikejutkan oleh peretasan besar-besaran yang mengakibatkan hilangnya dana hingga US$1,5 miliar dari platform crypto ternama, Bybit. Kejadian ini diduga dilakukan oleh kelompok peretas yang berafiliasi dengan Korea Utara, yaitu Lazarus Group, yang terkenal karena serangan siber berskala besar sebelumnya.
Bybit mengungkapkan bahwa peretas berhasil mengakses sebuah dompet Ethereum (ETH) yang tidak terhubung dengan jaringan internet (cold wallet) dan memindahkan sekitar 400.000 ETH ke alamat yang tidak diketahui. Meski peretasan tersebut sangat besar, CEO Bybit, Ben Zhou, memastikan bahwa seluruh dana pengguna aman dan operasional platform tidak terganggu. "Kami berkomitmen untuk mengembalikan dana pengguna yang terdampak," ungkap Zhou melalui unggahan di X.
Blockchain analytics firm, Arkham Intelligence, Elliptic, dan analis blockchain terkenal, ZachXBT, melacak peretasan ini dan mengaitkannya dengan Lazarus Group. Kelompok peretas ini berada di bawah pengawasan ketat pemerintah Amerika Serikat karena keterlibatannya dalam serangan ransomware "WannaCry", peretasan bank internasional, hingga serangan siber terhadap Sony Pictures pada 2014.
Peningkatan peretasan crypto yang dilakukan oleh kelompok yang terkait dengan Korea Utara juga mencatatkan angka yang mencengangkan. Data dari Chainalysis menunjukkan bahwa pada tahun 2024, nilai peretasan crypto yang terkait dengan Korea Utara melampaui US$1,3 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan tahun 2023.
Meski menghadapi kerugian besar, Bybit memastikan bahwa mereka tetap solvent dan dapat menutupi kerugian tersebut. Sebagai langkah lebih lanjut, mereka juga meluncurkan program penggantian dana bagi pengguna yang terdampak. Bybit mengklaim bahwa mereka akan menggunakan dana perusahaan atau pinjaman jembatan dari mitra untuk menutupi kehilangan yang belum terpulihkan.
Dengan jumlah pengguna lebih dari 60 juta di seluruh dunia, Bybit kini berkomitmen untuk lebih meningkatkan protokol keamanannya agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
Editor : ALengkong