Meskipun angka pasti soal volume penjualan belum dirinci, pertumbuhan ini menjadi angin segar bagi Apple.
Selama dua tahun terakhir, Apple terus ditekan oleh dominasi merek lokal seperti Huawei dan tren perlambatan pasar.
Kunci kebangkitan Apple di China kali ini terletak pada strategi diskon besar-besaran yang diterapkan menjelang festival belanja "618".
Apple dan sejumlah e-commerce besar China, seperti JD.com dan Tmall, menawarkan potongan harga signifikan untuk lini iPhone 16.
Beberapa model seperti iPhone 16 Pro dan Pro Max mendapat diskon hingga 2.530 yuan, setara Rp 5,7 juta.
Langkah ini membuat produk Apple kembali diminati di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
Selain diskon, Apple juga menaikkan nilai trade-in untuk iPhone lama, membuat pengguna lebih mudah beralih ke seri terbaru.
Pemerintah China juga memberikan subsidi tambahan hingga 500 yuan untuk iPhone dengan harga di bawah 6.000 yuan.
Menurut Ethan Qi dari Counterpoint, waktu promosi Apple sangat tepat karena berlangsung hanya seminggu sebelum festival "618".
Penyesuaian harga ini menjadi cara cerdas Apple dalam menghadapi pasar yang makin sadar harga.
Tak hanya soal potongan harga, Apple juga menghadirkan iPhone 16e, model baru dengan harga lebih terjangkau.
iPhone 16e menyasar konsumen kelas menengah yang sebelumnya memilih merek seperti Xiaomi atau Oppo.
Kehadiran iPhone 16e berhasil menarik minat pengguna yang sensitif terhadap harga tapi menginginkan kualitas iPhone.
Langkah Apple masuk ke pasar mid-range dianggap strategi yang jitu di tengah ekonomi China yang sedang melambat.
Meskipun ada pertumbuhan, posisi Apple masih berada di bawah Huawei dan Vivo di pasar smartphone China.
Huawei mencatat pertumbuhan 12 persen dan masih memimpin pasar berkat loyalitas pengguna terhadap produknya.
Vivo menempati posisi kedua, sedangkan Apple berada di peringkat ketiga dalam penjualan kuartal II-2025.
Analis Ivan Lam menyebut kekuatan Huawei terletak pada pelanggan setia yang terus memperbarui perangkat mereka.(LR)
Editor : ALengkong