JagoSatu.com - Siap-siap dibuat takjub, karena ada sebuah kabar yang benar-benar mengguncang dunia teknologi dan sains. Gemini, akal imitasi dari Google DeepMind, berhasil meraih medali emas dalam ajang prestisius Olimpiade Matematika Internasional (IMO). Yang membuatnya luar biasa adalah, Gemini berhasil memecahkan lima dari enam soal super sulit hanya dengan menggunakan bahasa alami. Ini bukan sekadar pencapaian hebat, melainkan sebuah perubahan fundamental tentang batasan kemampuan AI dalam menalar sesuatu yang kompleks.
DeepMind melaporkan bahwa Gemini dengan mode "Deep Think" sukses meraih 35 dari total 42 poin, skor yang cukup untuk mengamankan medali emas. Sebagai perbandingan, menurut laporan the decoder, prestasi setinggi ini hanya mampu dicapai oleh sekitar 8% peserta manusia. Poin terpentingnya adalah, tidak seperti upaya-upaya sebelumnya yang bergantung pada bahasa pemrograman formal, Gemini mampu menghasilkan bukti pemecahannya secara lengkap langsung dari soal, dalam batas waktu 4,5 jam. Fakta bahwa model ini melakukannya tanpa bantuan perangkat lunak simbolis atau alat eksternal lainnya, hanya dengan "berpikir" menggunakan bahasa Inggris, benar-benar fenomenal.
Rahasianya tampaknya terletak pada mode baru bernama "Deep Think" yang ada pada Gemini 2.5 Pro. Mode ini memungkinkan model untuk mengeksplorasi beberapa jalur hipotesis secara bersamaan untuk menemukan solusi. Versi khusus yang diturunkan di IMO ini juga telah dilatih menggunakan metode reinforcement learning untuk penalaran multi-langkah dan diberi akses ke database berisi solusi-solusi berkualitas tinggi dari soal-soal IMO sebelumnya. Meskipun penggunaan data latihan ini mungkin menimbulkan pertanyaan tentang kecerdasan "murni"-nya, kemampuannya untuk merangkai beberapa jalur solusi secara paralel merupakan lompatan besar dalam pemecahan masalah oleh AI.
Ternyata, DeepMind tidak sendirian dalam pencapaian ini. Pekan lalu, OpenAI juga mengumumkan bahwa model bahasa internal mereka berhasil meraih medali emas di ajang yang sama, dengan memecahkan lima dari enam soal dalam kondisi serupa. Seperti yang dikutip oleh the decoder, bukti yang dihasilkan oleh model OpenAI tersebut bahkan telah ditinjau dan divalidasi oleh para mantan peraih medali emas IMO. Kedua perusahaan menegaskan bahwa model mereka adalah sistem penalaran umum, bukan sekadar mesin yang dilatih khusus untuk IMO. Pencapaian simultan oleh dua raksasa AI ini menegaskan bahwa ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan penanda era baru bagi kemampuan penalaran AI.
Hingga saat ini, para ahli matematika sekaliber Terence Tao menganggap pemecahan soal IMO secara real-time oleh model bahasa sebagai sesuatu yang "hampir mustahil." Meskipun masih ada beberapa pertanyaan teknis mengenai skalabilitas dan konsistensi arsitekturnya, hasil ini secara tak terbantahkan menunjukkan bahwa AI kini bergerak sangat cepat untuk menyamai, atau bahkan melampaui, performa manusia dalam penalaran matematika yang rumit. Perlombaan untuk menciptakan AI yang benar-benar cerdas kini menjadi semakin sengit!
Nah, kami ingin tahu pendapat kalian. Apakah pencapaian ini membuat kalian takjub, atau justru sedikit khawatir dengan kemajuan AI yang begitu pesat? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung