Jagosatu.com - Google baru saja memperkenalkan sebuah alat baru bernama Opal yang bisa membangun aplikasi hanya dari deskripsi teks sederhana.
Teknologi ini disebut-sebut mampu menciptakan aplikasi web dalam waktu kurang dari lima detik.
Dengan hanya mengetik "Buat aplikasi to-do list dengan tema gelap", pengguna bisa langsung melihat hasil aplikasi jadi tanpa harus menulis satu baris kode pun.
Cara kerja ini disebut sebagai vibe-coding, yaitu pendekatan membuat aplikasi berdasarkan "vibe" atau ide umum yang diberikan lewat teks.
Menurut NewsBytes, Google sedang menguji Opal melalui platform eksperimental mereka, Google Labs.
Sayangnya, untuk saat ini Opal baru tersedia di Amerika Serikat dan hanya bisa digunakan oleh pengguna terpilih.
Teknologi vibe-coding sendiri mulai populer di awal 2025 setelah dipopulerkan oleh Andrej Karpathy, salah satu tokoh AI terkemuka di dunia.
Vibe-coding membuat proses pembuatan aplikasi terasa seperti ngobrol santai dengan asisten AI yang paham teknologi.
Misalnya kamu ingin bikin aplikasi katalog baju, cukup ketik “Buat katalog baju dengan filter warna dan ukuran”, dan AI akan membangunnya untukmu.
Menurut TechCrunch, Google mendemonstrasikan Opal secara langsung dengan membuat aplikasi produktivitas hanya dari prompt.
Tampilan Opal juga sangat ramah pengguna karena menampilkan tahapan pembuatan aplikasi secara visual dan bisa diedit sesuai keinginan.
Baca Juga: Chip AI PC Nvidia Tertunda, Salah Windows atau Strategi Pasar?
CEO Google, Sundar Pichai, bahkan mengaku sedang membangun halaman web pribadi menggunakan pendekatan vibe-coding seperti ini.
Hal ini menunjukkan bahwa vibe-coding bukan sekadar eksperimen, tapi mungkin jadi masa depan pemrograman itu sendiri.
Namun, teknologi ini juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan programmer dan ahli keamanan siber.
Menurut Particle News, banyak yang menilai bahwa kode yang dihasilkan AI bisa mengandung celah keamanan serius.
Jika pengguna tidak mengerti cara kerja aplikasi di balik layar, mereka bisa saja menjalankan sistem yang rentan diretas.
Vibe-coding juga memicu pertanyaan besar: apakah ini akan menggantikan pekerjaan developer manusia?
Beberapa orang khawatir, jika cukup hanya mengetik teks, lalu untuk apa lagi belajar ngoding bertahun-tahun?
Namun menurut GetBind Blog, vibe-coding lebih cocok untuk prototyping cepat, bukan untuk aplikasi kompleks berskala besar.
Jadi, daripada menganggap sebagai ancaman, banyak yang menyarankan kita untuk melihat ini sebagai alat bantu baru.
Seperti kalkulator untuk matematika, vibe-coding bisa jadi alat untuk mempercepat pekerjaan, bukan untuk menggantikan orangnya.
Google pun tidak menutup kemungkinan bahwa Opal akan dikembangkan untuk mendukung kolaborasi antara manusia dan AI.
Dengan begitu, manusia tetap menjadi sutradara dari aplikasi yang dibangun, sementara AI hanya sebagai asisten teknis.
Apakah Opal akan jadi revolusi yang memudahkan semua orang bikin aplikasi, atau justru ancaman besar bagi developer?
Yang jelas, dunia coding sedang mengalami perubahan besar yang tidak bisa diabaikan begitu saja. (KT)
Editor : ALengkong