Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Sam Altman Ngaku GPT-5 ‘Bodoh’? Inilah Drama Penuh di Balik Peluncurannya!

ALengkong • 2025-08-11 15:42:27

Sam Altman, CEO OpenAI (Foto: JASON REDMOND/AFP via Getty Images)
Sam Altman, CEO OpenAI (Foto: JASON REDMOND/AFP via Getty Images)

Jagosatu.com - Peluncuran GPT-5 oleh OpenAI yang seharusnya menjadi momen besar justru menuai reaksi yang beragam dari publik.

Menurut TechCrunch, Sam Altman selaku CEO OpenAI mengakui bahwa perilisan GPT-5 berlangsung lebih "bumpy" atau bergejolak dari yang diharapkan.

Salah satu masalah utama datang dari sistem autoswitcher, yaitu fitur yang memilih model AI terbaik secara otomatis untuk menjawab pertanyaan pengguna.

Dilansir dari VentureBeat, gangguan pada autoswitcher ini membuat GPT-5 terasa “lebih bodoh” dari kemampuan sebenarnya.

Banyak pengguna mengeluh GPT-5 kehilangan “kepribadian” dan kreativitas yang dimiliki pendahulunya, GPT-4o.

Menurut Business Insider, gelombang protes ini memaksa OpenAI mengambil langkah cepat untuk merespons keluhan komunitasnya.

Sam Altman akhirnya memutuskan untuk mengembalikan GPT-4o sebagai pilihan model bagi pelanggan ChatGPT Plus.

Dilansir dari Tom’s Guide, kebijakan ini disambut positif oleh pengguna yang merindukan gaya respons GPT-4o.

Selain itu, Altman juga mengumumkan bahwa batas penggunaan atau rate limits bagi pengguna Plus akan digandakan.

Baca Juga: Microsoft Ciptakan AI Pemburu Malware Paling Mematikan

Langkah ini diharapkan memberi ruang lebih bagi pengguna untuk bereksperimen dengan GPT-5 tanpa khawatir cepat kehabisan kuota.

Namun, drama GPT-5 tidak berhenti di masalah performa dan respon pengguna saja.

The Verge melaporkan adanya insiden yang dijuluki “chart crime” saat peluncuran GPT-5 melalui siaran langsung.

“Chart crime” ini merujuk pada kesalahan dalam menampilkan data pada grafik yang memperbesar perbedaan secara keliru.

Menurut Business Insider, salah satu grafik menunjukkan tingkat deception GPT-5 tampak jauh lebih tinggi dari angka sebenarnya.

Sam Altman bahkan menyebutnya sebagai “mega chart screwup” atau kesalahan besar pada grafik.

Tim OpenAI kemudian meminta maaf dan mengganti grafik tersebut di blog resmi mereka.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa selain teknologi canggih, akurasi visualisasi data juga sangat penting.

Altman menegaskan bahwa OpenAI akan meningkatkan transparansi dan pengujian sebelum merilis fitur atau model baru di masa depan.

Peluncuran GPT-5 ini membuktikan bahwa stabilitas teknis, akurasi data, dan mendengarkan pengguna adalah kunci keberhasilan AI di pasar.

Meski sempat terhuyung di awal, OpenAI berharap GPT-5 tetap bisa menjadi standar baru dalam teknologi AI generatif. (KT)

Editor : ALengkong
#SamAltman #ArtificialIntelligence #openai #GPT4o #GPT5 #Teknologi