Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

OpenAI Kembalikan GPT-4o Setelah GPT-5 Dapat Banyak Kritik dari Pengguna

Toar Rotulung • 2025-08-11 18:30:15

 

OpenaAI memberikan akses GPT-4o bagi pengguna GPT plus
OpenaAI memberikan akses GPT-4o bagi pengguna GPT plus

Jagosatu.com - OpenAI akhirnya memutuskan untuk mengembalikan akses ke model GPT-4o setelah peluncuran GPT-5 menuai banyak kritik dari para pengguna.

Langkah ini diambil karena banyak pengguna merasa GPT-5 kehilangan sisi “manusiawi” yang sebelumnya ada pada GPT-4o.

GPT-4o dikenal sebagai model AI yang lebih ekspresif, fleksibel, dan responsif terhadap gaya percakapan santai.

Menurut laporan dari JurnalZone, sebagian pengguna menilai GPT-5 memang lebih pintar dalam analisis data tetapi terasa terlalu kaku dalam percakapan.

Beberapa pengguna bahkan menyebut GPT-5 “terlalu formal” dan kurang bisa menyesuaikan diri dengan konteks emosional.

GPT-4o sendiri merupakan singkatan dari “Generative Pre-trained Transformer – Omni,” versi AI yang mendukung interaksi multimodal seperti teks, gambar, dan suara.

Dalam dunia AI, multimodal artinya satu sistem bisa memahami dan menghasilkan konten dari berbagai jenis data, bukan hanya teks.

Banyak kreator konten, guru, dan pelajar mengaku lebih nyaman menggunakan GPT-4o karena terasa lebih “hidup” saat berdialog.

OpenAI menyadari bahwa perubahan drastis tanpa memberi pilihan kepada pengguna bisa memicu kekecewaan.

Karena itu, OpenAI kini menawarkan opsi untuk memilih antara GPT-4o dan GPT-5 di layanan ChatGPT Plus.

Kebijakan ini membuat pengguna punya kebebasan menentukan model mana yang paling cocok untuk kebutuhan mereka.

GPT-5 sebenarnya membawa peningkatan dalam kecepatan respons, pemahaman konteks teknis, dan akurasi fakta.

Namun, tidak semua orang memerlukan AI yang sangat teknis dan efisien dalam setiap percakapan.

Bagi sebagian orang, AI yang “ramah” dan mengerti nuansa emosi lebih dibutuhkan dibanding AI yang sangat formal.

Kritik yang datang juga menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu berarti menghapus fitur lama.

Beberapa pakar teknologi berpendapat bahwa keberagaman model AI adalah kunci kepuasan pengguna.

Hal ini mirip dengan aplikasi musik yang menyediakan berbagai mode, seperti “mode konser” atau “mode santai,” sesuai selera pendengar.

OpenAI tampaknya belajar dari pengalaman bahwa mendengarkan umpan balik pengguna adalah bagian penting dalam pengembangan produk.

Dengan kembalinya GPT-4o, pengguna kini merasa suaranya didengar dan dihargai.

Banyak yang mengapresiasi langkah ini sebagai bentuk komitmen OpenAI pada pengalaman pengguna, bukan sekadar inovasi teknologi.

Ke depan, kemungkinan besar OpenAI akan terus menawarkan beberapa model AI sekaligus untuk memenuhi beragam kebutuhan.

Situasi ini menjadi contoh bahwa teknologi harus mengikuti manusia, bukan sebaliknya.

(db)

Editor : Toar Rotulung
#Artificial Intelligence #GPT4o #GPT5