Jagosatu.com - Suzuki Indonesia baru saja mengumumkan program recall untuk motor sport Gixxer 250SF.
Program recall ini dilakukan untuk memeriksa komponen penting yang ada di bagian rem belakang.
Komponen yang dicek adalah rear brake caliper bracket yang dianggap berpotensi menimbulkan masalah jika tidak diperbaiki.
Menurut PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), recall ini berlaku untuk 174 unit motor Gixxer 250SF.
Jumlah unit tersebut adalah yang sudah dipasarkan sejak tanggal 18 Agustus 2025 lalu.
Recall sendiri adalah program resmi dari pabrikan untuk memanggil kembali kendaraan yang sudah dijual karena ada masalah teknis.
Masalah teknis ini biasanya bisa berdampak pada kenyamanan atau bahkan keselamatan pengendara.
Dalam kasus Gixxer 250SF, masalah ada pada sistem pengereman yang sangat vital untuk keselamatan berkendara.
Suzuki menekankan bahwa program recall ini adalah bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap konsumen.
Pihak pabrikan juga menegaskan bahwa pemeriksaan dan perbaikan dilakukan secara gratis.
Artinya, pemilik Gixxer 250SF tidak akan dikenakan biaya apapun saat melakukan pengecekan di bengkel resmi.
Recall ini dilakukan agar tidak ada risiko ketika motor digunakan di jalan.
Suzuki memastikan pemilik motor akan dihubungi langsung melalui surat atau pesan singkat.
Selain itu, informasi lengkap soal recall juga bisa dicek melalui situs resmi Suzuki Indonesia.
Konsumen hanya perlu memasukkan nomor rangka motor untuk memastikan apakah motornya termasuk dalam daftar recall.
Jika motor terdaftar, pemilik bisa langsung datang ke bengkel resmi Suzuki terdekat.
Proses pemeriksaan akan dilakukan oleh teknisi yang sudah dilatih khusus.
Apabila ditemukan masalah, teknisi akan langsung melakukan penggantian komponen yang bermasalah.
Waktu pengerjaan perbaikan disebut cukup singkat dan bisa ditunggu di bengkel.
Recall ini juga menjadi pengingat bahwa pemeriksaan berkala di bengkel resmi itu penting.
Suzuki berharap program ini bisa menjaga kepercayaan konsumen terhadap kualitas produknya.
Recall adalah hal yang biasa terjadi dalam industri otomotif dan justru menunjukkan kepedulian produsen pada keamanan.
(db)
Editor : Toar Rotulung