JagoSatu.com - Hanya lima bulan setelah Vivo V50, Vivo V60 hadir sebagai suksesor sejati. Berbeda dengan pendahulunya yang hanya penyegaran desain, V60 membawa peningkatan signifikan di hampir semua sektor.
Hal yang paling mengejutkan adalah adopsi sistem tiga kamera lengkap, hasil kolaborasi dengan Zeiss. Konfigurasi ini terasa seperti spesifikasi seri Pro, bukan model standar.
Untuk pertama kalinya di seri V non-pro, disematkan kamera telefoto periskop 50MP dengan OIS. Sebuah lompatan besar dari konfigurasi wide dan ultrawide yang menjadi standar sebelumnya.
Dilansir dari GadgetIn, hasil foto kamera utama menunjukkan detail tajam. Bahkan saat zoom 10x, tekstur detail seperti ukiran pada candi masih dapat ditangkap dengan sangat baik.
Kualitas kamera periskop ini melampaui ekspektasi. Bukan sekadar fitur tambahan untuk melengkapi spesifikasi, melainkan sebuah lensa telefoto level atas yang sangat fungsional dan berkualitas.
Sayangnya, ada penurunan signifikan. Kamera ultrawide turun dari 50MP menjadi hanya 8MP. Reputasi sebagai ponsel midrange dengan ultrawide terbaik kini tidak lagi berlanjut.
Kamera depan mampu merekam video 4K 30fps dengan kualitas warna yang baik, namun tanpa stabilisasi. Untuk mendapatkan gambar yang stabil, pengguna harus menurunkan resolusi ke 1080p.
Vivo juga menyematkan berbagai fitur AI unik. Salah satunya adalah 'Four Seasons' untuk mengubah suasana foto, hingga 'Magic Move' untuk memperbaiki posisi objek secara cerdas.
Di sektor dapur pacu, V60 menjadi yang pertama di Indonesia dengan Snapdragon 7 Gen 4. Skor AnTuTu V10-nya diklaim mendekati 1 juta poin, sebuah peningkatan 20-30% dari V50.
Meski benchmark-nya tinggi, performa gaming berat masih menjadi catatan. Dikutip dari GadgetIn, Genshin Impact di setelan medium hanya mencatatkan rata-rata 33 fps, belum maksimal.
Layarnya menggunakan panel AMOLED 6,7 inci dengan lengkungan tipis di empat sisi. Tingkat kecerahan puncaknya mencapai 1500 nits, membuatnya nyaman digunakan di bawah terik matahari.
Sektor baterai mendapat peningkatan masif menjadi 6.500 mAh. Dengan pengisian cepat 90W, baterai dapat terisi penuh dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah daya tahan yang luar biasa.
Meski baterainya besar, ketebalannya hanya 7,5mm berkat teknologi baterai silikon karbon. Bodinya juga sudah mengantongi sertifikasi ketahanan air dan debu IP68/IP69.
Namun, ada satu hal yang terasa janggal. Ponsel ini masih menggunakan motor getar (haptic) yang terasa murah dan kurang presisi, tidak sepadan dengan kelas harganya.
Dengan harga mulai dari 6,9 juta, Vivo V60 masuk ke segmen premium. Ia menawarkan paket kamera telefoto dan baterai yang luar biasa. Namun dengan harga setinggi itu, apakah kompromi yang ada masih bisa diterima? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung