Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Bukan Lagi Open Source? Google Tiru Strategi 'Taman Berdinding' Apple

Toar Rotulung • 2025-10-07 01:00:00
Ilustrasi Maskot Android Mengenakan Tali Gantungan
Ilustrasi Maskot Android Mengenakan Tali Gantungan

JagoSatu.com - Google siap meluncurkan sistem verifikasi developer Android yang bersifat wajib. Langkah ini seakan menjadikan Google sebagai satpam utama bagi seluruh ekosistem aplikasi di platformnya.

Nantinya akan ada dua tingkatan: versi berbayar $25 dengan alasan "biaya administrasi" yang dianggap akal-akalan, dan versi gratis dengan batasan ketat yang hanya cocok untuk para penghobi.

Intinya, developer harus membayar meski merilis aplikasi di luar Play Store. Google juga berhak menolak aplikasi mana pun untuk berjalan di Android, sebuah langkah yang diklaim demi keamanan.

Sifat terbuka yang jadi janji utama Android kini seolah dibongkar paksa. Meskipun Google bilang sideloading tidak akan hilang, prosesnya akan dibuat jauh lebih sulit dan merepotkan.

Langkah ini mengubah status kepemilikan perangkat menjadi sekadar lisensi dengan aturan super ketat. Seperti kata seorang komentator, pesannya jelas: "Kamu tidak akan memiliki apa-apa dan kamu akan menyukainya."

Para developer hobi dan bisnis kecil pun mulai khawatir. Batasan instalasi yang tidak jelas pada tingkatan gratis bisa membuat aplikasi buatan mereka menjadi tidak berguna sama sekali.

Alasan keamanan yang digaungkan Google juga dapat sorotan tajam. Banyak kritikus menyoroti standar ganda Google yang bahkan kesulitan menjaga Play Store-nya sendiri dari serangan malware.

Banyak yang curiga, ini bukan soal keamanan, tapi soal duit dan kontrol. Kebijakan baru ini diduga kuat untuk memberantas aplikasi pemblokir iklan seperti YouTube ReVanced.

Langkah ini dianggap sebagai penyalahgunaan posisi monopoli yang sudah bisa ditebak. Setelah kalah di pengadilan soal monopoli Play Store tanpa hukuman berat, Google sepertinya makin menjadi-jadi.

Sistem ini juga menciptakan database terpusat berisi identitas developer, memicu kekhawatiran soal potensi sensor oleh pemerintah. Kasus penarikan aplikasi oleh Apple menjadi contoh yang bikin ngeri.

Secara strategis, Google terlihat mencontek strategi Apple dalam menghadapi regulator Uni Eropa. Apple pura-pura patuh dengan mengizinkan toko aplikasi pihak ketiga, tapi dengan syarat yang sangat rumit.

Karena kepatuhan setengah hati Apple itu diterima, Google kini menerapkan logika yang sama. Mereka bisa menggunakan alasan "keamanan" untuk membenarkan kebijakan yang merugikan konsumen.

Merasa dikhianati, banyak pengguna setia Android mulai mencari alternatif lain. Sebagian beralih ke iPhone, sementara yang lain melirik OS alternatif seperti GrapheneOS.

Bagi yang menolak ekosistem tertutup Apple, muncul seruan untuk mendukung proyek ponsel Linux independen. Opsi seperti PinePhone dan Sailfish OS dianggap satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.

Kepercayaan publik terhadap Google kini sepertinya sudah luntur, digantikan seruan agar regulator turun tangan. Nah, menurut kalian, apakah langkah Google ini bisa dibenarkan? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung
#Google #wajib #android #developer #Aplikasi #verifikasi #sistem #satpam #Meluncurkan #utama #ekosistem