Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Siap-siap, Era Taksi Robot Dimulai! Tapi Apa Benar Lebih Hemat?

Toar Rotulung • 2025-10-16 01:00:00
Ilustrasi Kendaraan Kemudi Otomatis
Ilustrasi Kendaraan Kemudi Otomatis

JagoSatu.com - Dulu, mobil tanpa supir mungkin cuma ada di film fiksi ilmiah. Tapi sekarang, itu sudah jadi kenyataan. Prof. Zhen Lian bahkan sudah mencobanya langsung di Phoenix. Perkembangannya cepat banget, gila!

Kini, mobil otonom (AV) mulai merambah layanan taksi online. Banyak yang berharap, hilangnya biaya supir bakal bikin tarif lebih murah. Tapi ternyata, asumsinya nggak sesimpel itu.

Faktanya, murah atau tidaknya tarif sangat bergantung pada cara perusahaan menerapkan teknologinya. Struktur pasar dan level persaingan jadi kuncinya, seperti yang dilaporkan oleh Yale Insights.

Menurut studi Lian dan rekannya, tarif murah butuh dua syarat: satu aplikasi bersama dan banyak penyedia AV yang saling bersaing ketat. Tapi, menyatukan pesaing dalam satu platform sepertinya bakal jadi PR besar bagi regulator.

Masalahnya, biaya investasinya gede banget di awal. Satu mobil AV bisa seharga $200.000 lebih. Saat sepi penumpang, mobil jadi nganggur dan ini jelas pemborosan modal parah yang bisa menghapus potensi penghematan.

Dilansir oleh Yale Insights, Lian mengingatkan, "Biaya operasional AV yang lebih murah belum tentu berarti tarifnya juga lebih murah buat kita." Jarang banget penghematan dari teknologi langsung sampai ke kantong konsumen.

Studi ini bukan cuma teori di atas kertas. Lian bekerja sama dengan Garrett van Ryzin, seorang pakar yang pernah bekerja di Uber, Lyft, dan Amazon. Jadi, penelitiannya berdasarkan data operasional di dunia nyata.

Mereka menggunakan model teori permainan untuk memprediksi strategi perusahaan. Pendekatan ini penting untuk melihat bagaimana perusahaan bisa mengakali sistem harga demi keuntungan maksimal.

Jika hanya ada satu perusahaan yang menguasai armada AV, mereka bisa dengan sengaja mengurangi jumlah mobil yang beroperasi. Dilaporkan oleh Yale Insights, kelangkaan buatan ini bertujuan untuk menaikkan harga, bukan membantu penumpang.

Sebaliknya, jika persaingan sehat, para penyedia jasa akan terus menambah mobil selama masih menguntungkan. Persaingan ketat inilah satu-satunya mekanisme yang pasti akan menguntungkan kita sebagai penumpang.

Penting juga untuk menyatukan mobil otonom dan mobil dengan supir manusia dalam satu aplikasi. Ini membuat sistem jadi jauh lebih efisien dalam mencocokkan penumpang dengan kendaraan terdekat.

Kalau aplikasinya dipisah, siap-siap saja frustrasi dan nggak efisien. Dilansir oleh Yale Insights, penumpang yang menunggu supir manusia bisa saja melewatkan AV kosong yang ada tepat di sebelahnya.

Saat ini, banyak perusahaan lagi coba-coba berbagai model, dari aplikasi khusus AV hingga yang terintegrasi. Lian menekankan masalah ini harus dipikirkan "sebelum teknologinya benar-benar matang."

Ada satu catatan penting: model ini berasumsi penumpang tidak peduli mau dapat mobil AV atau supir manusia. Kalau ternyata banyak yang takut naik AV, perusahaan mungkin akan tetap memisahkan aplikasi.

Lian yakin AV tidak akan 100% menggantikan supir manusia. AV efisien untuk permintaan rutin, sementara supir manusia fleksibel untuk jam sibuk. Nah, menurut kalian sendiri, siap nggak naik taksi online tanpa supir? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung
#biaya operasional #platform #Phoenix #biaya #besar #Mobil Tanpa Supir #ilmiah #persaingan #mobil otonom #layanan #murah #kenyataan #Insights #pr #tarif #pesaing #taksi online #Struktur Pasar #Aplikasi #Penyedia #Bersaing Ketat #regulator #perusahaan #Banyak #Yale #bersama