JagoSatu.com - Kabarnya, produksi iPhone Air terbaru dari Apple bakal dipangkas. Mizuho Securities mengklaim pemangkasannya mencapai satu juta unit. Gagal lagi deh eksperimen ukuran iPhone dari Apple. Kaget? Nggak juga, sih.
Reaksi netizen di dunia maya langsung ramai, membandingkannya dengan kegagalan sebelumnya. Ada yang bilang: "Mini, plus, sekarang ini. Gagal jual semua?" Apple sepertinya harus fokus pada seri reguler dan Pro Max saja.
Sebaliknya, model iPhone 17 lain justru laris manis. Dilansir oleh MacRumors, seri Pro dan Pro Max penjualannya naik, sementara iPhone 17 standar disebut "sukses besar". Konsumen tetap beli, tapi bukan yang aneh dan tipis.
Konsumen sekarang makin pintar dan mentingin value for money. Kata seorang pengguna, "Orang mau spek kencang, bukan bodi tipis." Kalau baterai lebih kecil dan kamera cuma satu, pilihannya jadi gampang.
Apple memang memangkas produksi Air sejuta unit, tapi menaikkan produksi model lain dua juta unit. Total produksi tetap 94 juta. Pemangkasan ini kecil, tapi jadi sinyal jelas kalau prediksi awal mereka meleset jauh.
Beberapa pengamat veteran menganggap ini cuma "dinamika biasa di rantai pasok". Dikutip dari MacRumors, perubahan satu juta unit dari total 90 juta lebih hanyalah "penyesuaian kecil". Tapi tetap saja, ini bukan pertanda bagus.
Di sisi lain, iPhone Air kabarnya "terjual habis dalam hitungan jam di Tiongkok". Tapi seorang skeptis bertanya, "Terjual habis dari total stok berapa?" Stok yang terbatas memang bisa ciptakan ilusi permintaan tinggi.
Anehnya, kegagalan Air ini ada hikmahnya. Samsung dilaporkan batal menjual pesaingnya, Galaxy S25 Edge, karena penjualan yang lesu. Jadi, rivalnya malah gagal total duluan. Menang karena lawan kesandung, nih.
Masalah utamanya ada di value-nya. Dilansir oleh MacRumors, dengan harga $200 lebih mahal dari iPhone 17 standar, komprominya terlalu banyak. Harga lebih tinggi untuk spek lebih rendah jelas bukan resep sukses.
Keunggulan utamanya—bodi super tipis—jadi sia-sia kalau sudah pakai casing pelindung. Toh, hampir semua orang pakai casing. Jadi, "aspek tipisnya jadi nggak relevan lagi". Sulit untuk membantah logika ini.
Laporan Mizuho juga menyinggung iPhone lipat pertama Apple. Hal ini langsung memicu berbagai teori menarik di kalangan fans. Banyak yang berharap Air adalah ajang "uji coba" untuk membuat bodi super tipis perangkat lipat nanti.
Dilaporkan oleh MacRumors, Air bisa jadi "setengah dari iPhone lipat". Sebuah batu loncatan untuk menguji sasis tipis dan modem C1X baru. Jika benar, Air adalah sukses strategis meski penjualannya kurang memuaskan.
Meski begitu, iPhone Air tetap punya fans setianya. Para pemiliknya mengaku "suka banget sama Air" dan memuji bobotnya yang ringan serta desainnya yang keren. Terkadang, orang hanya ingin sesuatu yang beda.
Beberapa pengguna bahkan mengklaim daya tahan baterainya lebih baik dari Pro Max lama mereka. Jika benar, ini menarik. Mungkin modem C1X barunya memang sangat efisien, yang jadi sinyal bagus untuk perangkat Apple lainnya.
Pada akhirnya, Air adalah produk niche yang gagal menarik pasar luas. Teknologinya memang indah, tapi saat spek dikorbankan demi bodi tipis, pasar memilih dengan dompetnya. Menurut kalian, apa Apple perlu berhenti bereksperimen? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung