Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Tiongkok Nekat "Tenggelamkan" Komputer Raksasa ke Laut, Microsoft Kalah Cepat!

Toar Rotulung • 2025-11-03 20:13:45
Tiongkok meluncurkan Data Center Bawah Laut komersial pertama di dunia
Tiongkok meluncurkan Data Center Bawah Laut komersial pertama di dunia

Jagosatu.com - Dunia teknologi sedang dihebohkan oleh langkah Tiongkok yang resmi mengomersialkan, atau menjual layanan, dari sebuah Data Center Bawah Laut (UDC), yang merupakan fasilitas penyimpanan data komputer yang diletakkan di dasar laut, dilansir dari Energy Reporters.

Data Center (Pusat Data) adalah gedung raksasa tempat semua server (komputer super) yang menyimpan data internet, mulai dari foto selfie kamu sampai video game yang kamu mainkan, disimpan dan dioperasikan.

Masalah terbesar dari Data Center di darat adalah panas berlebihan yang dihasilkan oleh ribuan server yang bekerja 24 jam nonstop, yang membuat mereka butuh energi super besar untuk mendinginkannya.

Agar server-server ini tidak kepanasan dan rusak, pengelola Data Center harus menyalakan pendingin ruangan (AC) yang sangat besar dan memakan banyak sekali listrik, menurut Tom's Hardware.

Di sinilah ide Data Center Bawah Laut muncul: kenapa tidak memanfaatkan air laut yang dingin sebagai pendingin alami, yang akan menghemat biaya listrik pendingin hingga 90%?

Konsep menenggelamkan komputer ke dasar laut ini pertama kali diuji coba oleh perusahaan raksasa Amerika Serikat, yaitu Microsoft, dengan proyek mereka yang bernama Project Natick.

Project Natick dari Microsoft adalah sebuah eksperimen di mana mereka menenggelamkan satu tabung besar berisi server (sering disebut server pod atau data cabin) di lepas pantai Skotlandia selama dua tahun, dilansir dari Microsoft News.

Hasil percobaan Microsoft sangat sukses: server mereka di bawah laut ternyata lebih jarang rusak dan lebih efisien dalam hal pendinginan dibandingkan di darat, menurut laporan Microsoft.

Namun, yang menarik, setelah percobaan selesai pada tahun 2020, Microsoft memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek Project Natick ke tahap komersial atau penjualan massal.

Sementara Microsoft berhenti pada tahap eksperimen, Tiongkok, melalui perusahaan seperti Shenzhen HiCloud Data Centre Technology, melaju cepat dan meluncurkan layanan Data Center mereka yang ditenggelamkan di laut, menjadikannya yang pertama di dunia yang dikomersialkan, dilansir dari Developing Telecoms.

Tiongkok melihat peluang besar ini bukan sekadar coba-coba, tetapi sebagai bagian dari strategi nasional mereka untuk mengembangkan Blue Economy (Ekonomi Biru), yaitu ekonomi yang memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan.

Salah satu lokasi komersial pertama Tiongkok berada di perairan Hainan, sebuah pulau di selatan Tiongkok, di mana mereka menenggelamkan kabin data seberat 1.300 ton sedalam 35 meter di bawah permukaan laut.

Kabinet atau data cabin raksasa ini dihubungkan dengan kabel serat optik (fiber optic cable) ke daratan, sehingga data dari server bisa dikirim bolak-balik ke pengguna internet dengan cepat.

Baca Juga: Harga EV Lain Auto Panik! XPeng G6 Pro Dirakit di Purwakarta, Fitur Dewa Harga Cuma Rp600 Jutaan?

Keunggulan utama Data Center Bawah Laut adalah efisiensi energi yang diukur dengan istilah PUE (Power Usage Effectiveness), yang idealnya nilainya mendekati 1,0.

PUE adalah angka perbandingan antara total energi yang dipakai Data Center dibagi dengan energi yang benar-benar digunakan untuk menjalankan komputernya; makin kecil PUE, makin efisien.

Data Center di darat Tiongkok memiliki standar PUE minimum sekitar 1,25, tetapi Data Center Bawah Laut yang baru ini diklaim bisa menekan angka PUE di bawah 1,15, yang berarti sangat hemat energi, menurut Tom's Hardware.

Bahkan, ada fasilitas di Shanghai yang diklaim menggunakan tenaga dari pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai (offshore wind farms), sehingga Data Center mereka hampir 95% ditenagai oleh energi terbarukan.

Untuk anak-anak SMP, bayangkan Data Center ini seperti kulkas raksasa yang tidak perlu listrik untuk mendinginkan isinya, karena sudah diletakkan di dalam air dingin.

Selain hemat energi, meletakkan server di dalam tabung kedap air di dasar laut juga membuatnya terlindung dari hal-hal yang sering merusak komputer di darat, seperti debu, kelembaban udara yang berubah-ubah, dan sentuhan manusia.

Karena tidak ada manusia yang keluar masuk untuk perbaikan, lingkungan di dalam kabin data bawah laut jadi sangat stabil, sehingga server diklaim bisa bekerja lebih lama tanpa rusak.

Tentu saja, proyek ini punya tantangan besar: bagaimana cara menjamin tabung logam raksasa itu tidak berkarat (korosi) karena air laut yang asin dan sangat korosif.

Perusahaan Tiongkok harus menggunakan pelapis khusus seperti glass flakes (serpihan kaca) pada baja pelindung tabung untuk memastikan air laut tidak bisa merusak server di dalamnya.

Saat ini, Tiongkok berencana untuk menenggelamkan hingga 100 kabin data, menjadikannya kompleks Data Center bawah laut terbesar di dunia, yang dapat menampung hingga 40.000 server, menurut TechRadar.

Penggunaan Data Center Bawah Laut ini akan sangat membantu Tiongkok yang sedang gencar membangun infrastruktur untuk teknologi masa depan, terutama untuk AI (Artificial Intelligence) atau Kecerdasan Buatan.

AI membutuhkan kekuatan komputasi (server) yang sangat besar dan cepat, dan Data Center di dekat pesisir akan sangat membantu masyarakat di sana mendapat layanan AI yang lebih kilat.

Inovasi ini juga menjadi pertanda bahwa perlombaan teknologi dunia tidak hanya terjadi di darat atau di luar angkasa, tetapi juga di kedalaman samudra.

Langkah komersial Tiongkok ini menunjukkan bahwa mereka siap mengambil risiko dan biaya besar untuk memimpin dalam solusi komputasi yang lebih ramah lingkungan dan efisien di masa depan.

Baca Juga: Akal-akalan Microsoft? Tutorial Bypass Windows 11 Bikin Channel Kena Banned!

Perbedaan utama antara Tiongkok dan Microsoft adalah pada tujuan: Microsoft melakukan eksperimen untuk belajar, sedangkan Tiongkok mengubah hasil eksperimen itu menjadi bisnis nyata.

Dengan menenggelamkan internet ke dasar laut, Tiongkok membuka babak baru dalam cara kita menyimpan dan mengakses data.

Bisa jadi, di masa depan, suara ombak di pantai juga akan menjadi suara pendingin untuk data-data digital kita.

Kita tunggu saja, apakah negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat dan Eropa, akan mulai berlomba-lomba menenggelamkan Data Center mereka ke laut juga.

Jika proyek ini berhasil secara ekonomi dan lingkungan, Data Center di darat yang besar dan berisik mungkin suatu hari akan menjadi cerita masa lalu.

Tiongkok telah memberikan contoh yang berani dan inovatif dalam memecahkan masalah energi besar yang dihadapi oleh industri teknologi global.

(DB)

Editor : Toar Rotulung
#data center bawah laut #Inovasi Teknologi #Teknologi Tiongkok