Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Kapsul Waktu 300TB: Sejarah Musik Spotify Kini Ada di Tangan Publik

Toar Rotulung • 2025-12-29 11:10:01

Logo Spotify
Logo Spotify

JagoSatu.com - Anna’s Archive baru saja melakukan aksi pembobolan data paling heboh dengan mengambil hampir seluruh pustaka Spotify. Bayangkan, ada arsip raksasa sebesar 300TB yang sekarang beredar di dunia torrent. Koleksi musik dunia kini cuma butuh beberapa hard drive saja.

Mencakup 99,6% dari apa yang sering kita dengar, grup ini mengklaim sudah mengarsipkan metadata 256 juta lagu dengan audio untuk 86 juta lagu. Mereka seolah menangkap semuanya, kecuali mungkin lagu-lagu indie yang sangat langka di luar sana.

Spotify mengaku hanya "beberapa" file audio yang berhasil diakses, dikutip dari Android Authority. Ini sangat kontras dengan klaim 99,6% dari Anna’s Archive. Entah siapa yang benar, tapi data 300TB di internet adalah bukti yang sulit dibantah.

Dilansir oleh Android Authority, Spotify akhirnya menyatakan telah memblokir akun-akun nakal yang bertanggung jawab. Mereka menyebut tindakan ini melanggar hukum. Meski begitu, memperketat keamanan saat datanya sudah bocor ke publik tentu terasa sudah sangat terlambat.

Pihak platform mengakui ada pihak ketiga yang menggunakan taktik ilegal untuk membobol DRM demi mengambil file audio. Padahal, DRM seharusnya jadi pelindung yang susah banget ditembus. Kejadian ini tentu jadi tamparan keras bagi sistem keamanan mereka.

Anna’s Archive berdalih ini adalah langkah untuk menyelamatkan sejarah musik modern sebelum lisensinya habis. Mereka ingin lagu-lagu yang kurang populer tetap abadi. Argumen pelestarian ini menarik, meski cara yang ditempuh jelas menabrak aturan hak cipta.

Menurut laporan Android Authority, ini adalah basis data metadata musik terbesar yang pernah ada untuk publik. Semuanya dibagikan lewat torrent yang disusun rapi berdasarkan popularitas lagu. Cara ini sangat efisien, meski bikin label rekaman besar meradang.

Lagu-lagu populer tetap disimpan dalam kualitas 160kbps, standar kualitas "normal" di Spotify. Sementara itu, lagu yang kurang populer diperkecil ukurannya supaya hemat ruang. Untuk cadangan musik dunia sebesar 300TB, kompromi kualitas ini terasa sangat masuk akal.

Proyek raksasa ini kabarnya mencakup hampir semua rilisan musik sampai Juli 2025. Jadi, lagu hits terbaru mungkin belum masuk di unggahan awal. Ini adalah "kapsul waktu" musik yang luar biasa, walaupun risikonya secara hukum nggak main-main.

Menariknya, file musik ini dirilis secara bertahap dimulai dari lagu paling populer. Strategi ini kemungkinan dilakukan untuk menjaga kesehatan koneksi torrent. Mereka juga ingin menghindari upaya penghapusan massal secara langsung oleh pihak Spotify.

Tentu saja, pendistribusian audio secara massal ini adalah pelanggaran hukum hak cipta yang sangat nyata. Niat baik buat melestarikan lagu biasanya tidak berlaku di mata hukum. Para pengacara label besar pasti sudah menyiapkan tumpukan dokumen tuntutan.

Dilansir oleh Android Authority, Spotify kini menerapkan pengamanan baru untuk mencegah aksi pembajakan serupa di masa depan. Mereka bekerja sama dengan mitra industri untuk melindungi hak pencipta. Sayangnya, ini tidak bisa menghapus data yang sudah menyebar.

Rasanya sulit bagi Spotify untuk narik balik data yang sudah terlanjur didistribusikan lewat torrent terdesentralisasi. Ini mungkin momen pertama dalam sejarah di mana raksasa streaming benar-benar kehilangan kendali atas katalognya sendiri. Benar-benar situasi yang sangat sulit.

Terlepas dari ini pembajakan atau pelestarian, kejadian ini jadi pengingat bagi industri musik. Ternyata, satu grup saja bisa menduplikasi platform bernilai miliaran dolar. Ini membuktikan bahwa sistem "cloud" tercanggih sekalipun tetap bisa disalin jika ada niat.

Kita lihat saja bagaimana kelanjutan perang hukum ini nantinya. Yang jelas, bagi para artis, musik mereka kini menjadi jauh lebih "abadi" dari yang dibayangkan. Nah, menurut kalian, apakah tindakan pelestarian seperti ini bisa dibenarkan? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung