JagoSatu.com - Samsung kabarnya melakukan manuver cerdas dengan membekukan harga jajaran Galaxy S26 mendatang. Meski rantai pasokan global sedang kacau, mereka tetap ingin menahan harga demi bersaing dengan Apple yang juga konsisten mempertahankan harga perangkat mereka.
Demi menjaga loyalitas pengguna agar tidak pindah ke iPhone 17, harga Galaxy S26 diprediksi tetap mulai $799. S26+ akan dibanderol $999 dan S26 Ultra $1.299, menandai tahun keempat Samsung tidak mengubah harga peluncurannya.
Langkah berani ini diambil karena divisi semikonduktor Samsung sedang meraup untung besar dari produksi DRAM dan NAND. Bisa dibilang, keuntungan dari pabrik chip mereka sendiri digunakan untuk mensubsidi biaya produksi ponsel kalian berikutnya.
Dikutip dari Android Police, Samsung kabarnya rela memangkas margin keuntungan sekitar 10-15% per unit ponsel. Mereka lebih memilih mengorbankan profit jangka pendek daripada kehilangan pangsa pasar karena kehadiran iPhone lipat yang akan datang.
Dilansir oleh Android Police, situasi di internal Samsung sebenarnya sedang pusing tujuh keliling menjaga harga tetap stabil. Kelangkaan DRAM dan kenaikan tarif komponen membuat target ini terasa sangat berat bagi divisi mobile mereka.
Sayangnya, kabar "pembekuan harga" ini kemungkinan besar hanya berlaku eksklusif untuk pasar Amerika Serikat saja. Di wilayah lain seperti Korea Selatan dan Eropa, harga diprediksi bakal tetap naik karena kondisi nilai tukar mata uang.
Menariknya, kebijakan harga tetap ini kabarnya juga bakal diperpanjang hingga Galaxy Z Fold 8 dan Flip 8. Samsung sadar betul mereka tidak boleh menjauhkan pelanggan karena persaingan ponsel lipat sekarang sudah semakin sengit.
Namun, ada beban yang harus ditanggung pengguna kelas menengah karena seri Galaxy A kemungkinan harganya akan naik. Hal ini dilakukan untuk membantu menyeimbangkan neraca keuangan Samsung akibat margin keuntungan yang sangat tipis.
Dikutip dari Android Police, kenaikan harga di lini Galaxy A ini sayangnya tidak dibarengi peningkatan hardware yang signifikan. Jadi, kalian mungkin harus membayar lebih mahal untuk pengalaman pemakaian yang hampir sama dengan generasi sebelumnya.
Tekanan dari Apple memang menjadi alasan utama Samsung harus melindungi pangsa pasar mereka. Mereka rela menelan kerugian finansial yang besar demi memastikan posisi ponsel lipat mereka tetap aman dari gempuran kompetitor.
Untuk tahun 2026, Samsung kabarnya akan lebih fokus memoles "jeroan" ponsel demi menghemat biaya desain. Selama harganya tetap stabil, konsumen biasanya akan tetap tertarik meskipun tampilan fisiknya tidak banyak berubah dari tahun lalu.
Dilansir oleh Android Police, jika rencana ini berhasil, ini akan menjadi momen langka di mana masa "Supercycle" tidak membuat harga ponsel naik. Samsung benar-benar sedang berjudi dengan keuntungan mereka agar tetap relevan.
Seri Galaxy S26 diperkirakan bakal meluncur resmi pada 25 Februari di acara Unpacked besar di San Francisco. Kita akan melihat apakah strategi harga "cari aman" ini cukup kuat untuk memikat hati masyarakat.
Samsung tampaknya bertaruh bahwa konsumen lebih memilih harga yang sudah familiar ketimbang desain baru yang lebih mahal. Dalam kondisi ekonomi saat ini, harga yang tidak naik bisa menjadi nilai jual yang sangat kuat.
Strategi ini menunjukkan betapa sengitnya perang smartphone di tahun 2026 mendatang. Nah, menurut kalian sendiri, lebih pilih desain baru tapi mahal atau desain lama tapi harganya tetap stabil? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung