JagoSatu.com - Awal tahun 2026 menjadi momen yang cukup berat buat kalian yang mau upgrade laptop. ASUS baru saja bikin geger pasar dengan menaikkan harga produknya sebesar 15-20% resmi mulai hari ini untuk berbagai model kelas menengah.
Imbasnya menjalar ke seluruh industri dan memicu efek domino bagi merek lain. Peritel mulai menyesuaikan harga untuk Acer, HP, Dell, MSI, hingga Gigabyte. Rasanya seperti serangan serentak buat kantong kita di waktu yang sangat tidak tepat.
Dell ternyata sudah memulai tren ini sejak Desember dengan kenaikan harga 10-30% pada lini komersial mereka. Jelas sekali bahwa krisis memori ini bukan sekadar rumor, karena dampaknya sekarang menghantam setiap sudut pasar PC secara bersamaan.
Dilansir oleh trendforce.com, ASUS mengklaim adanya perubahan struktur rantai pasok global yang memaksa langkah ini. Biaya DRAM dan SSD yang melambung tinggi membuat produsen tidak sanggup lagi menanggung beban biaya produksi yang makin mahal tersebut.
Situasi makin panas karena merek besar seperti Lenovo juga diperkirakan bakal menaikkan harga seluruh lini produknya mulai hari ini. Sepertinya hampir tidak ada merek laptop Windows yang benar-benar aman dari gelombang kenaikan harga yang signifikan ini.
Harganya makin tak bersahabat, bahkan laptop kantor mainstream kini bisa menyentuh angka NT60.000 setelah penyesuaian. Kalau kalian tidak sempat membeli laptop saat diskon liburan kemarin, sepertinya momen terbaik untuk mendapatkan harga murah mungkin sudah terlewatkan.
Dikutip dari trendforce.com, para pakar memperingatkan bahwa ini baru tahap awal. Lonjakan harga bahan baku seperti aluminium, emas, dan timah diprediksi akan memicu gelombang kenaikan harga kedua yang membuat harga saat ini terasa jauh lebih terjangkau.
Dikutip dari trendforce.com, Apple memiliki senjata rahasia berupa kontrak jangka panjang dengan pemasok komponen. Kemampuan mengunci harga bertahun-tahun sebelumnya membuat posisi mereka tetap stabil di saat produsen lain mulai panik menghadapi fluktuasi ekonomi global.
Pemandangannya sangat kontras, di Amerika Serikat pengecer justru memangkas harga MacBook Air sekitar $200. Efisiensi rantai pasok Apple benar-benar membuahkan hasil, memungkinkan mereka tetap memberikan penawaran menarik di saat para kompetitor Windows sedang kesulitan.
Dilansir oleh trendforce.com, Apple bahkan berencana merilis model 12,9 inci baru pada musim semi 2026. Langkah agresif ini bisa mencuri hati pengguna kelas menengah yang mulai merasa keberatan dengan harga merek Windows favorit mereka yang terus melonjak.
Kabar buruk lainnya, pemasok PCB dan modul daya kemungkinan besar bakal menyetop diskon triwulanan mereka. Tanpa adanya keringanan harga dari pemasok, jangan harap ada penurunan harga laptop yang bisa diteruskan kepada konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
Komponen kelas sultan dari NVIDIA dan AMD juga dilaporkan akan mengalami kenaikan harga pada awal 2026, termasuk seri RTX 5090. Jika ini terjadi, biaya untuk membangun sebuah PC desktop bakal sama mahalnya dengan membeli sebuah laptop.
Impian memiliki PC gaming kencang dengan harga ramah kantong sepertinya makin sulit digapai. Seluruh ekosistem teknologi sedang mengencangkan ikat pinggang, dan sayangnya beban tersebut harus ditanggung oleh kita sebagai konsumen yang ingin meningkatkan performa perangkat.
Saran saya, kalau kalian masih menemukan stok laptop dengan harga tahun lalu, langsung sikat sekarang juga. Efek domino ini bergerak sangat cepat dan era laptop entry-level dengan harga terjangkau mungkin akan berakhir untuk waktu yang cukup lama.
Kenaikan harga massal ini benar-benar mengubah peta persaingan laptop di tahun 2026. Dengan Apple yang justru menurunkan harga, kira-kira apakah kalian tetap setia dengan Windows atau mulai melirik MacBook sebagai alternatif yang lebih masuk akal? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung