JagoSatu.com - Membawa pengalaman audio surround 5.1 dan haptik langsung ke sandaran punggung, Razer kembali berinovasi dengan "Project Madison". Kursi konsep ini mengintegrasikan berbagai gadget imersif mereka ke dalam satu singgasana gaming yang terlihat sangat ambisius.
Kursi ini merupakan perpaduan berbagai hardware, seperti speaker Razer Clio dan bantalan haptik Freyja. Razer menyatukan semuanya ke rangka Iskur V2 X, sekaligus membereskan masalah kabel yang berantakan agar setup terlihat jauh lebih bersih.
Dilansir oleh Gizmodo, teknologi "Sensa haptics" di dalamnya menawarkan getaran yang jauh lebih halus dibanding kontroler biasa. Motor di dalamnya menyasar titik tubuh tertentu untuk mensimulasikan getaran mesin balap hingga desisan tembakan saat bermain game.
Menariknya, speaker di bagian sandaran kepala dirancang untuk memberikan efek audio 5.1. Namun, kabarnya speaker ini punya "sweet spot" yang sempit. Jika posisi kepala bergeser sedikit saja, kualitas audio dan rasa imersifnya bisa langsung terganggu.
Padahal, kualitas suara dari seri Clio sebelumnya dianggap belum mampu menandingi headset gaming kelas atas. Kita harus melihat apakah integrasi terbaru ini bisa meyakinkan para gamer untuk beralih dari headphone ke speaker sandaran kepala.
Saat diuji di CES 2026, kursi ini tetap mempertahankan standar kenyamanan khas Razer Iskur V2. Meski dijejali banyak teknologi, ergonominya tidak terganggu, bahkan terasa sedikit lebih empuk. Kenyamanan kursi memang tetap menjadi prioritas utama di sini.
Dikutip dari Gizmodo, motor haptik Sensa ini menjadi bintang utamanya karena memberikan pengalaman sangat imersif, terutama di game balap. Ini adalah peningkatan besar dari bantalan getar standar yang pernah kita lihat di pasaran sebelumnya.
Namun, di tengah keramaian pameran CES, sulit menilai apakah audionya benar-benar meningkat signifikan. Kabarnya, dentuman bass-nya belum cukup kuat untuk membuat getarannya sampai ke tulang, sesuatu yang mungkin dicari oleh para pecinta audio bass.
Tentu saja, sentuhan RGB ikonik Razer tidak absen di kursi ini. Lampu-lampu cantik diselipkan di balik bantalan untuk mempertegas identitas "gamer". Meskipun secara fungsi, lampu di belakang punggung ini sebenarnya tidak akan terlihat saat diduduki.
Hambatan paling terasa dari kursi ini adalah harganya yang diperkirakan menyentuh angka $800 atau sekitar 12 jutaan rupiah. Harga tersebut mencakup total harga komponen speaker, bantalan haptik, dan unit kursi Iskur itu sendiri.
Masa depan Project Madison untuk masuk ke lini produksi massal masih bergantung pada minat pasar terhadap perangkat imersif. Saat ini, Razer tampaknya lebih fokus mengembangkan perangkat wearable berbasis AI ketimbang memproduksi massal prototipe mewah ini.
Dilansir oleh Gizmodo, sebaiknya kalian jangan keburu nabung dulu karena Project Madison masih berstatus perangkat konsep. Produk ini lebih berperan sebagai wadah pamer kecanggihan ekosistem haptik "Sensa" milik Razer daripada produk siap jual.
Razer sepertinya ingin mengubah persepsi kursi kantor ergonomis agar tidak sekadar menjadi tempat duduk biasa. Mereka berupaya menguasai seluruh pengalaman sensorik pemain game, mulai dari indra pendengaran hingga ke seluruh bagian tubuh.
Bagi kalian yang mengutamakan imersi maksimal, ini mungkin perangkat niche yang paling menarik. Namun, bagi pengguna umum, kursi ini mungkin terasa seperti cara yang sangat mahal untuk mendapatkan sensasi pijat punggung saat sedang asyik bermain.
Jika bocoran spesifikasi ini akurat, masa depan kursi gaming sepertinya akan semakin canggih dan kompleks. Nah, menurut kalian, apakah fitur getar dan audio di kursi ini sebanding dengan harga 12 jutaan? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung