JagoSatu.com - Perubahan kebijakan besar sedang terjadi di industri teknologi setelah pemerintah AS akhirnya kasih izin resmi bagi Nvidia untuk menjual chip H200 ke Tiongkok. Langkah ini mengakhiri pembatasan panjang pada salah satu komponen silikon tercanggih saat ini.
Chip H200 ini sebenarnya adalah prosesor AI tercanggih kedua milik Nvidia. Sebelumnya, penjualannya dilarang karena isu keamanan yang cukup sensitif, sebab Washington khawatir teknologi ini bisa memberikan keunggulan militer bagi pihak Tiongkok.
Dilansir oleh BBC, Presiden Trump mengumumkan bahwa penjualan ini hanya diperbolehkan untuk pelanggan tertentu dengan tambahan biaya 25 persen. Pajak yang sangat besar ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya soal harga akhirnya nanti.
Namun, stok untuk pasar Amerika tetap menjadi prioritas utama sebelum chip ini dikirim ke luar negeri. Departemen Perdagangan ingin memastikan pengembangan AI di dalam negeri tidak terganggu hanya demi mengejar pasar global.
Syarat yang lumayan ketat juga harus dipenuhi pembeli di Tiongkok, termasuk bukti prosedur keamanan yang memadai. Chip ini murni untuk penggunaan komersial, meski melacak penggunaan aslinya di lapangan tentu akan menjadi tantangan tersendiri.
Strategi ini membuahkan hasil setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, melakukan lobi intensif sepanjang tahun 2025. Huang berpendapat bahwa menutup akses ke pasar Tiongkok justru bisa merugikan daya saing perusahaan Amerika sendiri.
Bagi Nvidia, mendapatkan pendapatan dari China tentu lebih baik daripada tidak sama sekali. Meskipun margin keuntungan menipis akibat pajak pemerintah, pasar Tiongkok tetap menawarkan angka yang tetap sangat menggiurkan bagi "Tim Hijau".
Dikutip dari BBC, prosesor kelas atas bernama Blackwell tetap menjadi barang yang belum boleh disentuh oleh sektor teknologi Tiongkok. Blackwell masih dianggap sebagai permata mahkota yang harus diamankan demi menjaga keunggulan teknologi AS.
Pihak China sendiri bukannya tanpa suara menanggapi situasi ini. Juru bicara kedutaan mereka, Liu Pengyu, mengkritik langkah tersebut karena dianggap mempolitisasi isu perdagangan dan bisa mengganggu stabilitas rantai pasokan global.
Bahkan, dilansir oleh BBC, sempat ada laporan bahwa China menyuruh perusahaan lokal mereka memboikot Nvidia. Namun, mereka tampaknya masih kesulitan mencari pengganti yang setara dengan kekuatan mentah dari chip buatan Nvidia.
Para analis memprediksi perusahaan besar seperti Alibaba tetap akan mengincar H200 meski ada tekanan boikot. Biar bagaimanapun, performa adalah raja di dunia AI, dan dukungan perangkat lunak Nvidia saat ini masih menjadi jawaranya.
Dikutip dari BBC, para ahli menilai "model tarif" atau bagi hasil ini bisa saja menular ke sektor teknologi lainnya. Teknologi kelas atas kini mulai diperlakukan seperti utilitas yang diatur ketat oleh negara.
Langkah ini seolah menunjukkan Amerika sedang bertaruh dengan menjual teknologi "generasi sebelumnya". Karena Blackwell sudah rilis, H200 secara teknis adalah berita lama, sehingga AS bisa tetap memegang medali emas untuk mereka sendiri.
Meski begitu, para kritikus di Washington masih merasa khawatir chip H200 ini tetap terlalu canggih untuk diekspor. Mereka takut teknologi ini tetap bisa membantu kemajuan sistem pengawasan atau kemampuan perang siber tertentu.
Pintu memang sudah terbuka bagi Nvidia dengan aturan yang sangat ketat dan pajak tinggi. Nah, menurut kalian, apakah kebijakan pajak 25 persen untuk ekspor teknologi canggih seperti ini sudah tepat? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung