JagoSatu.com - Baru saja drama GPU dikira mereda, Beijing malah bikin kejutan baru. Petugas bea cukai Tiongkok kabarnya dilarang meloloskan chip AI Nvidia H200 ke perbatasan, padahal pemerintah AS sudah memberikan lampu hijau untuk ekspornya.
Otoritas Tiongkok dilaporkan mengumpulkan para bos teknologi demi memberi peringatan keras. Mereka diminta jangan membeli chip ini kecuali statusnya benar-benar "mendesak". Istilah halus perusahaan ini biasanya menjadi kode keras untuk tidak membelinya sama sekali.
Dilansir oleh Reuters, langkah Beijing ini kemungkinan besar adalah upaya memberi produsen lokal "ruang bernapas" agar bisa mengejar ketertinggalan. Dengan membatasi persaingan, mereka berharap industri chip dalam negeri bisa mencapai kedaulatan mandiri.
Dikutip dari Reuters, H200 ini punya kecepatan enam kali lipat dibanding seri sebelumnya. Dengan pesanan mencapai dua juta unit, ada dana sekitar $50 miliar yang terancam hanya menjadi tumpukan barang yang berdebu.
Beijing tampaknya enggan membantu mendanai Amerika melalui pajak ekspor sebesar 25% yang berlaku. Wajar saja jika mereka enggan menyetor "biaya tambahan" kepada rival terbesarnya di saat industri domestik mereka sendiri masih tertinggal.
Beberapa analis menilai ini merupakan strategi negosiasi yang berisiko menjelang kunjungan Presiden Trump April mendatang. Seperti dilansir oleh Reuters, Tiongkok mungkin sedang menciptakan masalah hari ini agar bisa "diselesaikan" saat meja perundingan nanti.
Pemerintah Tiongkok mungkin masih mengizinkan pembelian dalam kondisi khusus seperti riset universitas. Namun, pengecualian ini masih diperdebatkan. Tentu sulit meyakinkan petugas bea cukai kalau ribuan GPU ini cuma buat "tugas kuliah" saja.
Pangsa pasar Nvidia di Tiongkok kini terjun bebas hingga mendekati titik nol. CEO Jensen Huang sudah berusaha keras mempertahankan posisinya di sana, namun tantangan baru dari pihak berwenang terus berdatangan tanpa henti.
Dikutip dari Reuters, chip Huawei Ascend memang ada, tapi H200 masih dianggap jauh lebih unggul. Pakai hardware yang ketinggalan berarti model AI lokal bakal butuh waktu lebih lama untuk berkembang dibanding pesaing global.
Di sisi lain, para pendukung kebijakan keras di Washington justru marah karena H200 sempat disetujui. Mereka takut chip ini bakal memperkuat militer Tiongkok. Intinya, kedua negara sama-sama tidak ingin rivalnya punya barang bagus.
Masih belum jelas apakah larangan ini menyasar pesanan lama atau hanya kontrak baru. Jika pesanan lama ikut diblokir, Nvidia bakal menghadapi kerugian miliaran dolar. Benar-benar momen yang tidak mengenakkan bagi bisnis mereka.
H200 kini menjadi titik panas utama dalam perang teknologi dunia. Dilansir oleh Reuters, pemerintah Tiongkok tampaknya lebih tertarik memaksa perusahaan mereka menggunakan produk dalam negeri daripada bergantung pada teknologi luar yang dibatasi.
Hingga saat ini, pihak Nvidia maupun bea cukai Tiongkok masih memilih bungkam. Di dunia teknologi, sikap diam seperti ini biasanya menandakan bahwa para pengacara dan pelobi sedang bekerja lembur di balik layar.
Kisah ini membuktikan bahwa perangkat keras tercanggih sekalipun tetap di bawah kendali politik. Perlombaan AI bukan lagi soal matematika terbaik, tapi soal siapa yang punya rantai pasok paling aman dan hambatan paling minim.
Jika situasi ini terus berlanjut, masa depan industri AI global bisa berubah total. Nah, melihat ketatnya persaingan dan blokade ini, menurut kalian bagaimana nasib Nvidia ke depannya? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung