Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Strategi Licin Washington: Jual Chip AI ke China Tapi Ada Syaratnya.

Toar Rotulung • 2026-01-21 00:00:00
Ilustrasi Chip di atas Peta Dunia
Ilustrasi Chip di atas Peta Dunia

JagoSatu.com - Di tengah panasnya perang chip, Washington baru saja merilis aturan main baru soal ekspor AI. Pemerintah AS kini mengizinkan chip kelas atas seperti Nvidia H200 dikirim ke China, namun dengan sistem pengawasan yang sangat ketat.

Biar boleh dikirim, chip ini harus punya "batas kecepatan" spesifik. Dikutip dari Tom's Hardware, performa pemrosesannya tidak boleh lebih dari 21.000 TPP. Ini adalah cara Washington memastikan China tidak mendapatkan teknologi yang terlalu kuat.

Ada aturan unik nih, China sekarang resmi jadi "pasar limpahan." Produsen baru boleh menjual satu GPU ke China kalau mereka sudah menjual dua unit model yang sama di pasar Amerika Serikat. Kebijakan ini benar-benar memprioritaskan AS.

Dilansir oleh Tom's Hardware, aturan 50% ini jadi tantangan yang sangat berat bagi startup. Mencoba bersaing dengan raksasa seperti Nvidia di Amerika hanya demi izin ekspor ke China terasa seperti misi yang hampir mustahil bagi mereka.

Bukan cuma soal angka, setiap chip harus melewati "pemeriksaan fisik." Laboratorium independen di Amerika Serikat wajib memverifikasi bahwa silikon di dalam chip sesuai dengan spesifikasi di kotak sebelum akhirnya diizinkan untuk dikirim ke luar negeri.

Pemerintah Amerika juga memantau habis-habisan layanan cloud. Berdasarkan laporan Tom's Hardware, penyedia layanan harus memastikan chip mereka tidak disalahgunakan untuk riset militer. Ini adalah prinsip verifikasi tingkat tinggi yang diterapkan oleh pihak Washington.

Bagi pemain kecil, kebijakan ini terasa seperti tembok birokrasi yang tebal. Biaya pengujian pihak ketiga yang mahal bisa menguras keuntungan mereka. Akhirnya, hanya perusahaan raksasa seperti Nvidia atau AMD yang punya peluang besar untuk menang.

Pemerintah AS bahkan bertindak layaknya "satpam" di pabrik TSMC. Mereka memastikan produksi chip untuk China tidak boleh mengganggu pesanan pelanggan Amerika. Intinya, warga Amerika harus selalu mendapatkan prioritas utama dalam jalur produksi teknologi canggih.

Dikutip dari Tom's Hardware, Amerika Serikat juga menutup rapat celah ekspor melalui negara perantara. Jika ada perusahaan dari Rusia atau Korea Utara yang mencoba membantu pengiriman, izin ekspor tersebut akan langsung ditolak tanpa ampun.

Penyedia cloud juga ikut kena getahnya karena harus memantau aktivitas pengguna mereka secara mendalam. Mereka wajib memastikan bahwa algoritma AI yang sudah terlatih tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang masuk dalam daftar larangan pemerintah.

Dilansir oleh Tom's Hardware, strategi ini sebenarnya adalah "kebocoran terkontrol." Amerika Serikat sengaja mengizinkan teknologi yang sedikit lebih lambat masuk ke China. Tujuannya jelas, agar pesaing mereka selalu tertinggal setidaknya dua langkah di belakang.

Hasilnya, Nvidia dan AMD menjadi pemenang yang jelas dalam situasi ini. Mereka punya volume penjualan domestik yang besar untuk menyeimbangkan ekspor. Ini memperkuat dominasi mereka saat produsen GPU kecil lainnya mulai kesulitan untuk bergerak.

Industri AI di China pun harus puas dengan teknologi yang "nyaris mutakhir." Meski dapat akses daya komputasi lebih besar, mereka tetap tertinggal dibanding dunia yang sudah memakai Blackwell. Ini batasan nyata bagi ambisi global mereka.

Risiko besar juga menghantui proses sertifikasi laboratorium ini. Jika laboratorium pilihan perusahaan bermasalah dengan pemerintah, seluruh jalur ekspor bisa membeku seketika. Ketidakpastian ini menjadi "pajak" berat yang hanya sanggup dibayar oleh perusahaan triliunan dolar.

Langkah berani Washington ini memang menjaga keamanan nasional sambil tetap mengalirkan uang. Namun, ini memunculkan pertanyaan besar. Menurut kalian, apakah sistem "izin khusus" ini adil bagi perkembangan teknologi dunia, atau justru merugikan inovasi? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung