Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Microsoft Kasih Kunci BitLocker ke FBI? Ini Bahayanya Buat Privasi Kita!

Toar Rotulung • 2026-01-29 00:00:00
Ilustrasi PIlustrasi Perselisihan Antar AS dan Inggris soal Enkripsi
Ilustrasi PIlustrasi Perselisihan Antar AS dan Inggris soal Enkripsi

JagoSatu.com - Microsoft baru aja ngasih akses kunci pemulihan BitLocker ke FBI buat buka laptop tersangka. Kejadian ini beneran jadi alarm buat kita semua, terutama yang cuma ngandelin pengaturan keamanan bawaan di PC Windows masing-masing.

Soal privasi, kunci BitLocker ternyata otomatis diunggah ke cloud Microsoft secara default. Artinya, mereka punya akses buat nyerahin data itu ke pihak berwajib kalau ada surat perintah resmi. Fitur ini seolah jadi pintu belakang privasi.

Dilansir oleh TechCrunch, kasus di Guam ngebuktiin kalau hard drive tersangka bisa didekripsi dengan mudah. Microsoft sendiri ngaku dapet sekitar 20 permintaan serupa tiap tahunnya. Miris banget kalau alat keamanan malah dipake buat balik nyerang.

Pakar keamanan Matthew Green sampe ngasih peringatan keras soal ini. Menurutnya, ketidakmampuan Microsoft ngejagain kunci pelanggan bikin mereka jadi sorotan negatif di industri teknologi. Kalau cloud mereka bocor, enkripsi di laptop kita nggak ada gunanya.

Ternyata pengawasan digital ini nggak cuma berhenti di PC doang. ICE udah deportasi ratusan ribu orang pake bantuan teknologi canggih yang bikin merinding. Mereka bahkan ngerazia rumah warga pake alat yang ngelampauin aturan hukum biasa.

Dilaporkan oleh TechCrunch, mereka pake van khusus bernama "stingray" buat nipu sinyal HP agar konek ke menara palsu. Alat ini parah banget karena bisa nyadap pesan singkat kita tanpa ketahuan sama sekali oleh warga sekitar.

Agen di lapangan juga pake aplikasi Mobile Fortify buat mindai kartu identitas ke database berisi 200 juta foto. Proses identifikasinya jadi instan banget di jalanan. Kartu identitas kita malah jadi jalan pintas buat bikin profil pengawasan.

Ada juga Clearview AI yang dapet kontrak fantastis buat sistem pengenalan wajah. Mereka bisa ngenalin siapa aja lewat miliaran foto yang dikeruk dari internet. Jual wajah pribadi ke pemerintah demi cuan rasanya ngeri banget buat privasi.

Dikutip dari TechCrunch, kontrak bareng pembuat spyware asal Israel, Paragon, malah jalan lagi. Software ini didesain buat ngeretas dan mantau isi HP kita secara total. Pake spyware profesional buat penegakan hukum domestik itu langkah yang sangat berbahaya.

Kalau spyware nggak mempan, mereka tinggal pake perangkat Graykey. Alat dari Magnet Forensics ini sanggup ngebobol kunci layar buat ngambil data digital. Keamanan kita terancam kalau perangkat fisik sudah dipegang, karena enkripsi terbaik pun bisa ditembus.

ICE juga beli data lokasi HP dari broker data kaya Penlink tanpa butuh surat perintah pengadilan. Data ini diambil dari aplikasi biasa lewat kode tersembunyi. Rasanya keterlaluan kalau pergerakan kita dijual ke pemerintah lewat celah aplikasi favorit.

Dilansir oleh TechCrunch, ICE ngelacak pengemudi di AS pake 40.000 pembaca pelat nomor otomatis. Mereka bahkan kerja sama bareng polisi lokal buat perluas jangkauan. Kita hampir nggak bisa berkendara tanpa tercatat di database pelacakan pemerintah yang masif.

Jangan harap catatan publik kita aman. ICE berani bayar jutaan dolar ke LexisNexis cuma buat akses database investigasi raksasa yang berisi informasi latar belakang kita. Data pribadi kita dipersenjatai buat kepolisian "prediktif" yang rasanya kayak mimpi buruk.

Perusahaan Palantir juga dapet jatah proyek senilai hampir $100 juta. Mereka nyediain sistem yang bisa nyaring data orang cuma berdasarkan ciri fisik sampai warna rambut. Punya database yang bisa nyari karakteristik fisik kita itu jelas pelanggaran privasi serius.

Terakhir, ada "ImmigrationOS" buat ngelacak data secara real-time. Kalau tahun 2026 nanti privasi kita beneran mati, mungkin teknologi inilah yang jadi penyebab utamanya. Nah, menurut kalian, apakah keamanan digital kita masih bisa dipercaya sekarang? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung