Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Privasi Terancam? Intip Aturan Baru TikTok yang Makin Haus Data!

Toar Rotulung • 2026-01-29 00:00:00
Logo TikTok
Logo TikTok

JagoSatu.com - TikTok baru saja merilis update kebijakan baru, dan ini jadi berita kurang sedap buat privasi kita. Melihat mereka makin agresif mengumpulkan data sambil berusaha terlihat patuh pada aturan pemerintah terasa seperti taktik korporat biasa.

Bagaikan backend lama yang cuma dicat baru, entitas "semi-independen" di AS ini ternyata tetap membuka jalur berbagi data. Perusahaan beralasan "interoperable experience" ini wajib ada demi sinkronisasi feed dan moderasi sistem secara global.

Dilansir oleh TechSpot, perubahan ini muncul cuma selang beberapa hari setelah ByteDance memisahkan divisi AS. Pengguna pun dipaksa memberikan persetujuan lewat pop-up sebelum bisa lanjut scrolling konten video favorit mereka seperti biasanya.

Langkah ini sepertinya menggunakan taktik FOMO agar pengguna menyerahkan datanya. Jika fitur lokasi dimatikan, kita memang tetap bisa memakai aplikasinya, tapi sayangnya kita bakal kehilangan akses ke berbagai fitur berbasis lokasi yang menarik.

Kebijakan baru ini mempertegas bahwa TikTok sekarang bisa mengambil lokasi presisi lewat koordinat GPS jika diizinkan. Ini adalah pertukaran privasi yang sangat besar dan mungkin tidak disadari oleh banyak pengguna aplikasi tersebut.

Dikutip dari TechSpot, Caitriona Fitzgerald mencatat tren platform yang memakai data lokasi real-time untuk iklan. Sistem ini menggunakan SDK untuk mengirim koordinat GPS kita, bertindak bagaikan pelacak digital yang mengikuti ke mana pun kita pergi.

Jangkauan iklan mereka sekarang nggak cuma mentok di dalam aplikasi saja. Ketentuan baru memungkinkan TikTok menyajikan konten sponsor di seluruh platform mereka hingga ke situs web pihak ketiga yang sering kita kunjungi.

Model bisnis ini membuat TikTok makin mirip dengan Google dan Meta yang sudah melakukannya bertahun-tahun. Server iklan mereka sekarang bisa bertukar data profil dan metrik perilaku kita dengan berbagai sistem eksternal lainnya.

Dilansir oleh TechSpot, pengguna sebenarnya bisa membatasi penargetan ini lewat pengaturan tersembunyi. Namun, mengandalkan settingan yang sulit ditemukan untuk melindungi privasi itu rasanya seperti menahan air bah cuma pakai selembar tisu saja.

Bayangkan jika pencarian medis pribadi kita malah memicu munculnya iklan di TikTok, tentu bikin merinding. Pengiklan kini menghubungkan data browsing luar aplikasi dengan profil sosial kita untuk mengirimkan berbagai promosi lanjutan.

Menegakkan aturan soal AI generatif pada jutaan unggahan harian pasti jadi tantangan teknis yang sangat berat. Sekarang pengguna dilarang memalsukan keaslian konten, termasuk menghapus metadata atau watermark yang menandai konten buatan mesin.

Dikutip dari TechSpot, TikTok kabarnya bakal memakai pengenalan pola machine-learning untuk menandai konten palsu. Menggunakan AI untuk menangkap AI lainnya terasa seperti perlombaan senjata digital yang menjebak pengguna di tengah-tengahnya.

Respon netizen pun bermacam-macam, bahkan ada user seperti ArmorJr yang tetap menganggap aplikasi ini sebagai alat pemantau. Sulit menyalahkan mereka kalau melihat kebijakan privasi yang justru makin invasif tepat setelah pemerintah ikut campur.

Beberapa pihak juga menyalahkan pemerintah karena membiarkan kesepakatan ini lolos begitu saja tanpa larangan total. Entah kalian setuju atau tidak, kompromi ini terasa seperti memberikan hasil yang paling buruk bagi privasi para pengguna.

Akhirnya, aturan baru ini membuktikan bahwa berbagi data tetap berjalan meskipun ada drama politik. Setelah melihat semua ini, menurut kalian apakah hiburan di TikTok benar-benar sebanding dengan data pribadi yang harus dikorbankan? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung