JagoSatu.com - Meta lagi di ujung tanduk karena bakal menjalani sidang panas yang bisa bikin mereka merugi miliaran dolar. Lebih dari 1.000 gugatan menuduh fitur "adiktif" seperti gulir tak terbatas sengaja dirancang buat memikat anak-anak.
Kasus pembuka ini melibatkan remaja 19 tahun berinisial K.G.M. yang merasa Meta dan YouTube memicu depresi hingga perilaku membahayakan diri sendiri. Saat TikTok sudah berdamai, Meta dan Google justru memilih untuk tetap maju bertarung di pengadilan.
Dilansir oleh Ars Technica, kekalahan di sidang ini bisa memaksa platform mengubah cara kerja mereka atau wajib pasang peringatan keamanan. Meta sendiri berdalih bahwa masalah keluarga dan perundungan di sekolah yang jadi penyebab utamanya.
Dokumen rahasia mengungkap bahwa sejak 2017, Mark Zuckerberg sudah menjadikan upaya "ngiket" pengguna remaja sebagai target utama perusahaan. Bahkan, ada email karyawan yang jujur mengakui kalau Instagram itu layaknya narkoba yang diedarkan secara digital.
Google pun setali tiga uang; dokumen tahun 2020 menunjukkan rencana mereka agar anak-anak terus menggunakan layanan mereka seumur hidup. Fitur "Shorts" mereka disinyalir sengaja membombardir remaja dengan konten rendah kualitas yang bisa menormalisasi perilaku tidak sehat.
Dikutip dari Ars Technica, hakim memutuskan kasus ini tetap lanjut karena fokus pada celah desain aplikasi, bukan soal kontennya. Langkah hukum ini tergolong brilian karena berhasil melewati perlindungan hukum yang biasanya dipakai perusahaan media sosial.
Persidangan ini bakal menghadirkan Arturo Bejar, mantan orang dalam Meta, sebagai saksi ahli. Ia akan membongkar bagaimana algoritma sengaja memprioritaskan konten yang sulit diabaikan anak-anak, termasuk penggunaan filter kecantikan dan jumlah suka yang publik.
Riset internal Facebook bahkan menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan aplikasi mereka dengan menurunnya kesehatan mental anak muda, dilansir oleh Ars Technica. Ironisnya, mereka lebih sibuk mengatur strategi PR daripada benar-benar memperbaiki kualitas produknya.
Pihak pembela berdalih bahwa orang tua korban tidak pernah membaca syarat layanan, sehingga peringatan pun tidak akan berguna. Namun, sang ibu menegaskan bakal membatasi akses jika saja ia tahu risiko psikologis yang sebenarnya sejak awal.
Pengacara K.G.M. menyatakan bahwa media sosial sudah "nyolong" masa kecil dan masa remaja kliennya secara paksa. Sidang ini menjadi momen bersejarah di mana dokumen tentang "pelanggaran yang disengaja" oleh raksasa teknologi akhirnya dibongkar ke publik.
Tech Oversight Project menuduh raksasa teknologi ini sudah memanipulasi dan membohongi publik selama bertahun-tahun. Mereka mengklaim platform sengaja memilih mengejar cuan daripada peduli pada bahaya yang mengancam kesehatan mental para remaja yang rentan.
Dikutip dari Ars Technica, kemenangan K.G.M. bisa memicu penyelesaian kasus serupa secara massal di seluruh Amerika Serikat. Sidang ini jadi penentu nasib apakah istilah "kecanduan media sosial" bakal diakui secara sah oleh hukum atau tidak.
Tak hanya itu, Meta juga harus menghadapi gugatan dari puluhan jaksa agung pada akhir tahun ini. Bukti-bukti yang terungkap dalam kasus ini dipastikan bakal jadi amunisi tambahan untuk pertempuran hukum mereka di masa depan.
Penelitian YouTube menemukan bahwa pengguna muda paling parah terkena dampak buruk akibat penggunaan ponsel larut malam. Sayangnya, mereka tetap menargetkan remaja dengan fitur putar otomatis demi mengejar tayangan iklan tambahan yang lebih banyak.
Raksasa media sosial akhirnya harus berhadapan dengan juri karena desain aplikasi yang dianggap mirip narkoba. Jika mereka kalah, internet mungkin akan berubah total. Apakah kalian setuju kalau fitur infinite scroll dibatasi khusus untuk anak-anak? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung