JagoSatu.com - Para raksasa teknologi akhirnya harus berhadapan dengan hukum di pengadilan California. Meta dan YouTube dituduh sengaja membangun "mesin kecanduan" untuk menjerat anak-anak. Persidangan ini bakal membongkar dampak buruk platform tersebut terhadap kesehatan mental.
Rahasia algoritma ini mungkin akan terungkap, setelah pengacara Mark Lanier berencana menunjukkan email internal dari Mark Zuckerberg. Ia mengklaim perusahaan merekayasa platform ini dengan sengaja demi keuntungan maksimal. Ini memberikan gambaran mengejutkan tentang sosok di balik layar.
Dilansir oleh BBC, Zuckerberg pernah meminta lewat email agar waktu penggunaan aplikasi meningkat sebesar 12 persen. YouTube juga diduga sengaja mengincar pengguna muda demi iklan. Mengejar target waktu layar setinggi itu tentu berisiko bagi sosial.
Kini, strategi pembelaan Meta mulai menggunakan taktik yang cukup tajam. Mereka justru balik menunjuk masalah internal keluarga penggugat sebagai penyebab depresi. Strategi ini seolah ingin mengalihkan kesalahan dari desain aplikasi ke pola asuh orang tua mereka.
Pengacara pembela, Paul Schmidt, sempat mengutip pernyataan penggugat tentang masalah dengan ibunya. Ia berpendapat bahwa juri harus melihat faktor kekerasan domestik dalam sejarahnya. Ini menjadi pengingat bahwa persidangan ini berubah menjadi sangat personal bagi pihak penggugat.
Dikutip dari BBC, platform tersebut diklaim sebagai "mesin kecanduan" yang memanfaatkan orang tua yang butuh pengasuhan digital. Fitur pemutaran otomatis sengaja didesain agar anak terjebak. Istilah pengasuh digital ini menjadi sindiran halus bagi fenomena yang terjadi saat ini.
Persidangan ini bakal berlangsung selama enam minggu ke depan. Nama-nama besar seperti Mark Zuckerberg dan kepala Instagram serta YouTube dijadwalkan hadir. Kita juga akan mendengar pengakuan dari mantan karyawan yang bertindak sebagai pembocor rahasia atau whistleblower.
Putusan persidangan ini bakal jadi standar baru buat ribuan kasus serupa di masa depan. Distrik sekolah dan jaksa kini sedang memantau dengan sangat cermat. Satu keputusan hukum saja bisa mengubah seluruh lanskap bisnis media sosial yang kita kenal.
Dilansir oleh BBC, sebanyak dua puluh sembilan Jaksa Agung mendesak Meta untuk segera merombak bisnisnya. Mereka ingin akun pengguna di bawah 13 tahun dihapus total. Menghapus data adalah satu hal, tapi mematikan fitur adiktif adalah tantangan berbeda.
Para jaksa juga mendorong adanya pembatasan waktu penggunaan saat jam sekolah dan malam hari. Mereka ingin menghapus fitur pengguliran tanpa batas dan filter kecantikan yang manipulatif. Bayangkan kalau Instagram didesain supaya kita bisa berhenti main HP dengan tenang.
Meski Meta sudah meluncurkan "akun remaja", jaksa menganggap itu sekadar strategi citra perusahaan. Alat tersebut dinilai hanya memberikan perlindungan minimal dibanding daya tarik psikologis aplikasinya. Strategi humas ini dianggap sebagai langkah paling minimal yang bisa mereka lakukan.
Dikutip dari BBC, perusahaan teknologi berdalih tidak bertanggung jawab atas konten pihak ketiga. Namun, persidangan ini lebih fokus pada desain mesinnya, bukan kontennya. Kalau desain platformnya sendiri yang bermasalah, maka aplikasinya sudah seperti zat adiktif bagi penggunanya.
Sekitar seratus orang menyaksikan persidangan ini, termasuk para orang tua yang merasa kehilangan anaknya akibat algoritma. Suasana suram menyelimuti ruang sidang. Ini bukan sekadar debat hukum biasa, melainkan tentang tanggung jawab nyata para insinyur perangkat lunak tersebut.
Menariknya, Snap dan TikTok sudah lebih dulu berdamai dengan penggugat bulan lalu. Hal ini meninggalkan Meta dan Google berjuang sendirian di pengadilan. Kesepakatan di luar pengadilan biasanya mengisyaratkan adanya rahasia yang tidak ingin dibuka ke publik.
Industri media sosial sedang menghadapi momen penentuan seperti industri tembakau dulu. Jika "mesin kecanduan" ini dipaksa berhenti, internet mungkin akan berubah selamanya. Apakah kalian akan tetap betah memakai Instagram jika fitur "Infinite Scroll" dihilangkan? (tmtiwow)
Editor : Toar Rotulung