Arkeologi Daerah Ekonomi Ekonomi & Bisnis Esport Gaya Hidup Global Headline Hiburan Hukum & Kriminal Kesehatan Lifestyle & Hiburan Nasional Olahraga Pemerintahan Politik Sains & Teknologi Teknologi Wisata Wisata & Kuliner

Masa Depan Seram atau Keren? Kacamata Meta Bakal Bisa "Scan" Identitas Siapa Saja

Toar Rotulung • 2026-02-16 11:27:04
Kacamata Meta Ray-Ban Display hadir dengan fitur masa depan
Kacamata Meta Ray-Ban Display hadir dengan fitur masa depan

JagoSatu.com - Meta bikin kacamata pintarnya jadi makin "ngeri". Fitur baru bernama "Name Tag" lagi dikembangkan supaya pengguna Ray-Ban Meta bisa kenalin orang secara real-time pakai AI. Bayangin fitur HUD di gim video, tapi ini buat memantau orang di dunia nyata.

Mark Zuckerberg pengen fitur ini bikin asisten AI kacamata jadi benar-benar berguna. Idenya, kalian bisa langsung tahu info siapa pun yang kalian lihat lewat bingkai kacamata. Kayaknya, urusan "ingat nama" bakal segera diserahkan ke sistem pintar.

Meta sudah diskusikan rencana ini sejak tahun lalu karena risiko privasi yang besar. Dilansir oleh MacRumors, memo internal mereka menyebut situasi politik yang lagi panas di AS bisa jadi pengalihan isu yang pas buat rilis fitur kontroversial ini.

Memo Reality Labs itu bilang mereka bakal rilis produk ini saat perhatian publik lagi terbagi. Strategi yang cukup berani karena mereka seolah mau "ngumpet" di balik hiruk-pikuk berita buat meluncurkan fitur yang sebenarnya bisa jadi mimpi buruk privasi.

Langkah ini jadi perubahan sikap yang mencolok bagi Meta. Padahal, lima tahun lalu mereka menutup fitur pengenalan wajah karena masalah hukum. Dulu mereka cari "keseimbangan," tapi sekarang kayaknya mementingkan penjualan perangkat keras saja.

Aturannya masih abu-abu soal siapa saja yang bisa dideteksi nantinya. Meta masih debat apakah cuma teman atau semua orang dengan akun Instagram publik. Dilaporkan oleh MacRumors, batas privasi ini pasti bakal langsung diuji begitu teknologinya rilis.

Dikutip dari MacRumors, fitur pengaman berupa LED putih kecil sebenarnya sudah ada. Tapi mahasiswa Harvard terbukti bisa mengakali lampu indikator itu buat identifikasi orang asing di kereta bawah tanah. Lampu kecil ini terbukti nggak banyak membantu melindungi privasi.

Penjualan kacamata ini sebenarnya sukses besar dengan angka tujuh juta unit di tahun 2025. Masalahnya, fitur pengenalan wajah mengubah gawai keren ini jadi alat pengawas massal. Menjual jutaan kamera itu biasa, tapi menjual jutaan pemindai identitas itu beda urusan.

Perusahaan mengklaim bakal ambil "langkah penuh kehati-hatian" kalau fitur ini benar dirilis. Padahal, mereka cuma pakai alasan "perusahaan lain juga begitu". Kayaknya kata-kata bijaksana itu cuma bahasa korporat biar mereka bisa lolos dari pengawasan ketat.

Selain "Name Tag," ada kabar Meta juga garap kacamata "super-sensing". Sensornya bakal aktif seharian buat rekam seluruh aktivitas hidup kalian. Ini masa depan yang menyeramkan karena sudut pandang pribadi kalian bakal diubah jadi aliran data buat mereka.

Google juga nggak mau ketinggalan dengan kacamata Android XR mereka. Ini bakal jadi persaingan sengit antara Meta, Apple, dan Google. Dunia di mana setiap orang bisa "memindai" profil LinkedIn kalian di jalanan sudah ada di depan mata.

Apple juga diprediksi bakal masuk ke persaingan ini di akhir tahun. Produk mereka kabarnya punya kualitas build yang lebih mantap. Meski nggak punya fitur AR, kacamata Apple tetap bakal dibekali kamera, mikrofon, dan kemampuan AI yang canggih.

Dilansir oleh MacRumors, kacamata Apple kemungkinan bakal fokus ke navigasi dan terjemahan. Apple mungkin bakal hindari fitur "Name Tag" demi privasi. Kalau Apple benar-benar melewatkan fitur pemindaian wajah, itu bisa jadi alasan kuat buat memilih produk mereka.

Kendala teknis fitur ini kabarnya sudah teratasi. Sekarang tinggal urusan nyali, apakah Meta siap menghadapi kritik publik karena menghilangkan anonimitas di tempat umum. Melihat sejarahnya, Meta biasanya bakal terus maju demi mendapatkan lebih banyak data pengguna.

Meta siap mengubah lingkaran sosial kalian jadi basis data yang bisa dicari cuma lewat tatapan mata. Ini sangat membantu buat yang sulit ingat nama, tapi jadi horor buat yang lain. Menurut kalian, teknologi ini sudah kelewat batas? (tmtiwow)

Editor : Toar Rotulung